Selasa, 29 Desember 2009

Absurd


sakit itu mulai terasa
kegilaan itu mulai membelenggu
dan ketidakpastian lah yang justru menjadi nyata
menjadi suatu mimpi yang pasti datang menghampiri

adakah yang bisa dilakukan selain mengeluh??

sampai kapan bisa bertahan????
sampai kapan waktu yang tersisa????
sampai kapan aku akan benar2 sadar,
bahwa ini sudah injury time
sudah detik2 terakhir

hingga aku akan segera beranjak dari tempatku
walau hanya sekedar bergerak
agar otot2ku tidak mati
dan kelu...

bahkan aku melihat awan hitam itu sudah mulai berarak
bergerak perlahan namun pasti
mengelilingi langit tempat aku berteduh
dan melayang turun
merambah bumi yang kupijak

gersang...


















Kamis, 24 Desember 2009

Kado

Halaman sekolah ini tidak berubah, dominasi lapangan tanah yang merangkap tempat upacara dan lapangan olahraga masih terlihat jelas. Semilir angin di siang hari seolah mengirimkan sinyal damai dari sawah yang terbentang luas di belakang bangunan tua itu. Dan seragam putih-merahku pun ikut berayun mengikuti buaian angin…

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan menyodorkan sesuatu. “Buat kamu. Aku gak lupa kok kalo hari ini kamu ulang tahun. Sorry ya Li, tapi hari ini aku ada janji sama Kristin. Have a nice day,” ucapnya sambil tersenyum dan berlalu.

Rian, itu tadi Rian. Cowok paling keren di angkatanku yang sudah 6 taun jadi sohibku, pinter dan jago olahraga.

Kubuka bungkusan berbalut pita warna pink itu. Hmmm.. sebuah pigura membingkai indah fotoku berdua dengannya. Dan sebuah kartu ucapan, “Li, aku tau aku gak selalu bisa nemenin kamu sekarang. Tapi kamu harus tau, aku gak pernah berubah. Kayak foto ini, kita bakal selalu jadi sohib. Good luck yah, Sist?

Aku memejamkan mata. “Bagiku kamu dah berubah Rian,..

………..



Hey! Bengong aja sih, kesambet setan tau rasa loh..
Idiiihh, apaan sih. Kamu telat satu jam, tau!” aku ngedumel sambil menyingkirkan tangannya yang seenaknya nyubit hidungku.

Sorry, Ret. Aku ke rumah dulu ambil ini, buat kamu. Met ulang taun ya? Gak boleh ngambek, ni udah mati-matian usaha jadi cowok romatis lho..
Hmmmm, boneka Pikachu. Hihihi, tau aja kalo aku ngiler pingin boneka itu.
Makasih.. hehe, aku sukses nih bikin seorang Hendra masuk ke toko boneka. Hahaha..
Demi cinta..” katanya dengan muka menyebalkan itu.
Gombal!!

Makasih banget, Hen. Tapi aku gak bisa dibohongi, matamu selalu jujur. Aku janji takkan jadi bebanmu lagi..

……….

Ded, sepuluh menit lagi dimulai!” Gaguk berteriak di depan ruang rapat OSIS. Dan cowok yang disebut Dedy tadi hanya mengacungkan jempol kanannya tanpa menoleh dariku.


Aku bener-bener gak tau kalo hari ini ada rapat, Mbak. Mbak mau nunggu sampe rapat selesai? Tapi takutnya sampe sore, aku kasian sama Mbak.
Gak wes, aku pulang aja. Ntar kamu gak tenang kalo rapat sambil ditungguin gini.” Ucapku sedatar mungkin, berharap dia tidak semakin merasa bersalah karena telah membuatku kecewa.

Maaf ya, Mbak. Ntar abis rapat aku ke kos deh.
Ya sudah, sana masuk. Dah ditungguin tuh. Pemimpin yang baik itu gak boleh sering-sering telat kalo rapat.”
Iya. Tapi tunggu bentar ya, Mbak.” Dia berlari masuk ke ruang OSIS dan kembali membawa bungkusan.

Buat, Mbak. Met ulang taun ya? Sorry baru nemu novelnya sekarang. Habis Agatha Christie langka banget di kota kecil seperti ini.” Ucapnya sambil tersenyum lega karena berhasil memberiku novel yang sudah lama kuincar. Aku yakin dia harus hunting ke luar kota demi mendapatkan novel itu karena semua toko buku di kota ini telah kusisir, dan novel itu tak ada.

Makasih... Penuh perjuangan nih kayaknya. Hehe. Ya sudah sana masuk. Ntar dikira aku nyulik kamu lagi.”
Dia nyengir dan beranjak masuk ke ruang rapat itu setelah untuk kesekian kali Gaguk berteriak-teriak mengingatkan bahwa rapat sudah dimulai. Dasar anak SMA…


Mereka benar, Ded. Aku memang udah merebut kamu dari mereka. Sudah saatnya kukembalikan kamu ke duniamu, fokus bersama mereka.


..............



Hhmm,.. sial banget. Siang-siang bolong disuruh ke kampus, eh ternyata cuma dikasi tugas. Maksud loh ?? Dasar ketua kelas gak jelas. Kirain jadi ujian praktek....” aku mulai ngedumel dari kampus sampe tempat parkir motor.

Hey, Dek! Ngomel mulu sih. Mirip orang gila loh.” Tepukan di pundakku itu cukup keras, sampai-sampai aku bersiap pasang kuda-kuda. Dan orang yang bersangkutan lah yang justru nyengir kuda sekarang.

Ngapain pasang kuda-kuda gitu. Waaaahhhh, ampun dek. Saya orang baik...”

Aku sudah bersiap melempar buku diktat setebal 430 halaman ke arahnya ketika dia menyodorkan setangkai mawar merah ke arahku.

Nih, katanya minta mawar. Cukup kan setangkai mawar buat kado? Hehe. Lagi tekor nih, Dek. Salah siapa ulang tahun kok akhir bulan? Itu juga udah ngorbanin jatah buat sarapan pagi. Dan sekarang aku lapar. Ayo, tanggung jawab. Traktir makan ya ? Di ikan bakar wana wisata! Ya ? Ya ?

Maksa banget sih! Siapa bilang kadonya diterima ? Siapa juga yang bilang mau traktir makan ? Aku capek, bete, pingin pulang trus tidur.” Aku pura-pura merajuk dan pasanga tampang seolah hendak benar-benar pulang.


Lho kok gitu ? Ayolah dek, aku udah jauh-jauh ke kampus nih padahal gak ada kuliah. Ayo jalan-jalan ke wana wisata, aku yang traktir. Ya sudah, aku traktir makan sekalian. Kurang ya ?? Tak bonceng deh ke sana, kamu tau beres dan tiba-tiba nyampe tujuan. Tunggu sini bentar, aku ambil motor.”

Hehe, dasar orang aneh. Maksa banget. Yang ulang tahun siapa, yang ribet siapa. Aku nyengir kuda aja di luar parkiran. Trik pura-pura ngambek ternyata berhasil. Hihihi...

Baiklah, Mas. Setangkai mawar dan paket jalan-jalan itu kuanggap sebagai kado ulang tahun. Cukup, itu lebih dari cukup. Aku tidak akan meminta lebih. Dan aku takkan memintamu menemaniku seumur hidupmu.


………



Miawww…
Kali ini aku terbangun mendengar kucing kesayanganku berteriak-teriak minta makan. "Ughhhh, masih pagi pussy.." Dan dia tidak peduli. Dengan malas aku bangun dan menuju dapur mengikuti kucing gendut itu berjalan sambil mengibas-ngibaskan ekor.

Happy Birthday, Mama!” ucap mereka bersamaan ketika aku muncul di dapur. Hmmm, si kecil yang rupanya sudah mandi langsung berlari memelukku dan mencium pipiku. “Panjang umur ya Ma, dan tetep bisa masakin sup ayam buat Dedek.”

Hahaha, aku tertawa mendengar celotehnya. Dasar anak-anak. “Makasih, Sayang.” Kucium pipinya yang tembem itu berkali-kali.

Trus papa gak dapet apa-apa nih? Padahal sudah beli kue tart, trus udah mandiin Dedek pagi-pagi juga. Hmmmm….” Suami tersayangku itu pasang tampang wajah cemberut.

Iya, iya Papa. Makasih surprise-nya. Hari ini mama masak spesial deh buat Papa sama Dedek. Tapi mama mandi dulu ya ? Ntar abis itu kita potong kuenya juga. Oke ?

Oke deh.” Katanya sambil mengacungkan jempol kanannya dan mengajak juniornya beranjak ke ruang keluarga dengan berisik. Like father like son..

Miawwww...
Si puss menagih sarapannya. Kutuang sekaleng kecil makanan instant ke tempat makannya. Kasian, tampaknya tadi malam aku lupa memberinya makan akibat pulang larut dari luar kota.


Hhhheehhhh….
Aku menghela nafas dan menuju kamar mandi. Masih tergambar jelas mimpiku semalam. Tidak, aku tidak mimpi. Aku benar-benar mengalami semua itu, dulu..


Senin, 21 Desember 2009

eNY

Lho, Mas? Ngapain di sini?” kusapa dia yang duduk menungguku di ruang tamu.
Aku kan pengen ketemu kamu. Gak boleh?” jawabnya diiringi senyum yang selalu penuh makna itu. Ya Tuhan, aku tak sanggup menghadapi orang ini. Aku gak siap, oke lah seenggaknya gak sekarang.

Aku berjalan mendekat dan dia mengulurkan tangan padaku. Masih, tangan itu pun masih sehangat dulu ketika kemudian kujabat. Sedetik aku tertunduk tak bisa berkata apapun di depannya.

Hentikan! Bukan saatnya bermimpi. Hadapi kenyataan, Li!!

Tersadar aku pun segera memposisikan diri sebagai tuan rumah yang baik. “Kok mas ke sini? Bukannya pengantin baru belom boleh jalan-jalan yah?” tanyaku seraya menahan perih yang diam-diam mulai mengiris sudut-sudut hatiku lagi. “Sudah kubilang kan kalo aku pengen ketemu kamu? Aku pengen ngenalin istriku ke kamu. Kamu sih kemaren gak dateng ke acaraku. Tega kamu, Dek.” Aku hanya tersenyum pahit mendengarnya mengucap kalimat itu tanpa beban. Sungguh, itu adalah senyum paling munafik yang pernah kuberikan pada orang lain. “Mas tunggu bentar yah, kuambilkan minum.” Segera aku bangkit berdiri dan berjalan membelakanginya menuju ruang tengah hanya untuk menyusut setitik bulir bening yang terus memaksa mengalir dari sudut mataku.

Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi ini.

Kuletakkan segelas es jeruk di hadapannya, itu minuman favoritnya. “Eh, Dek. Bentar yah? Itu istriku dateng.” Kuamati dia melangkah keluar menjemput seorang perempuan berkerudung panjang yang menggendong seorang bayi dan membawa mereka masuk. Bayi?? Bukannya mereka baru menikah minggu kemaren??

Tuhan, ini dia perempuan itu. Perempuan yang dinikahinya dan memupuskan jalanku untuk hidup bersamanya. Perempuan itu mendekat dan menyalamiku. “Eny. Kamu Lia kan?” Aku mengangguk dan membalas uluran tangannya. Biasa saja, siapa yang bilang perempuan ini begitu cantik dan anggun?? Lalu, apa alasan dia menikahi perempuan ini?
Oh tidak, tidak. Setan jahat, pergilah dari pikiranku. Jangan ajari aku untuk mencela orang lain begini!

Aku menikahi Eny karena bayi ini, Dek.” ucap laki-laki itu seolah mengerti pertanyaan dalam hatiku tentang bayi yang digendong istrinya.

Owh, karena bayi itu alasannya. Tapi tunggu dulu.. Apa ??!! Karena bayi itu ??!! Apa maksudnya ?? Oh Tuhan, tidak. Jangan bilang bahwa bayi itu anak mereka.

Tidakk!!
Aku berteriak histeris dan menutup telingaku dengan kedua tanganku.

Dan,..
Hosh, hosh, hosh!!!
Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal. “Astaghfirullah hal adziim,” aku mengucap istighfar seraya meneguk sedikit air putih dari gelas di meja kerjaku. Sekilas kulihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ya Tuhan, rupanya aku mimpi. Mungkin tadi aku terlalu capek dan akhirnya tertidur di sini.

Kututup window di monitorku yang masih menampilkan profil laki-laki dalam mimpiku tadi pada sebuah jejaring sosial. Terpampang di profil itu foto pernikahannya yang baru saja di upload 5 jam yang lalu.

Aku menghela nafas panjang dan bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan Qiyamul Lail. Dalam dzikir aku berusaha menenangkan hatiku yang masih amburadul gara-gara mimpi aneh barusan. Tak lama berselang, aku pun larut dalam do’a, pasrah menyungkur di sajadahku yang basah.

Aku tau pasti bahwa mimpi tadi hanyalah mimpi, kenyataannya tidaklah demikian. Dia, orang yang selalu kupuja, orang yang begitu sempurna di mataku, memang telah menikah dengan perempuan bernama Eny itu seminggu yang lalu. Tapi sesungguhnya mereka menikah baik-baik, dan pernikahan suci itu telah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Mungkin aku yang belum ikhlas sampai-sampai aku memimpikan hal yang tidak-tidak seperti itu.

Tuhan, ikhlaskan hatiku menerima dan menjalani takdir-Mu ini. Aku mencintainya karena-Mu. Aku bertemu dengannya juga atas izin-Mu. Dan jika sekarang Engkau pisahkan aku darinya, pasti ini jalan yang terbaik untukku dan dirinya. Aku yakin Engkau pun telah mempersiapkan pengganti yang lebih baik untukku.

Kututup do’aku malam itu dengan bersujud sekali lagi.