Kamis, 10 September 2009

Bulir Bening


Di sini aku melihatnya malam ini,.. duduk bersimpuh di hadapanku,.. di karpet merah di kamarku. Aku bengong melihat bulir bening itu menetes membasahi pipinya yang chubby. Tak ada yang bisa kulakukan selain menyodorkan segulung tissue padanya. Diambil dua lembar,..

Semenit kemudian, dia terisak hingga bahunya terguncang pelan. Dan tangis itu benar-benar meledak, meski tetap tanpa suara,.. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan emosi jiwanya yang turut meledak bersama tangis pilunya itu..

Sobat,.
Ada apakah kiranya denganmu? Masalah apakah gerangan yang bisa membuatmu sedemikian bersedih? Siapa yang tega melukai hatimu yang lembut itu?

Dia memandangku sekilas,. Berusaha tersenyum, walau sangat getir,. Namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya..

Sekali lagi dia terisak, dan membenamkan mukanya yang mulai memerah ke dalam pangkuannya. Kali ini bahunya terguncang semakin keras, dan bulir-bulir bening itu membanjir di pipinya.

Tuhan,.
Aku tidak tahan melihatnya seperti ini. Apa yang harus aku lakukan agar sahabatku ini berhenti menangis?

Sobat,. (kataku sambil memeluknya)
Katakan padaku apa yang bisa kulakukan untukmu?

Kubiarkan dia menangis dalam pelukanku,..

Tak pernah kuketahui apa sebab dia berlaku demikian,.. Hampir tengah malam ketika aku berhasil membujuknya untuk tidur. Hanya satu kalimat yang dia ucapkan sebelum akhirnya terlelap, "Ternyata aku juga terluka melihatnya terluka, dan luka itu terasa sangat sakit."

Aku hanya mengangguk dan menepuk-nepuk pundaknya. Kupastikan dia telah terlelap sebelum akhirnya aku beranjak pergi.

Tuhan,.

Lelapkan tidurnya.. Jagalah dia malam ini,. hingga esok fajar merekah dengan indah.. untuknya.



Dedicated for both of you my sist,.
No more tears,..
I love u all

Rabu, 09 September 2009

Bahwa Hari Ini 09.09.09

MELEPASMU



Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

Semakin kumenyayangimu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Suatu saat nanti kau kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yg tak pernah menyatu

Semakin kumenyayangimu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Maafkan aku yang membiarkanmu
Masuk kedalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin

Semakin kumenyayangimu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Semakin terasa cintamu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

I will let you go
I will let you go

Rabu, 02 September 2009

Terangkai,..


new_R: gue yakin loe pasti enggak tau kabar ini..
me: apa?

new_R: musuh loe itu beneran udah nikah.
me: nikah? ahh, yg bener loe? sama cowoknya itu?

new_R: iyah. malah sekarang udah punya bebi..
me: whatttt????



Gue lupa entah kapan tepatnya gue mulai bermasalah sama dia. Pokoknya yang gue ingat, gue emang udah gak suka sama tuh bocah dari awal pertama ngeliat. Sok. Satu kata itu aja yang terlintas di benak gue. Dan entah kenapa gue juga gak seneng ngeliat tampangnya itu, nyebelin dan bikin mata gue sepet...

Berjalan beberapa lama, gue mulai denger pujian di sana sini untuknya. Kata orang-orang sih dia pinter, padahal kalo menurut gue dia itu cuma pinter ngomong 'n ngambil ati para dosen di kampus. Sempet gue ketawa sinis waktu gue denger dia dulu gak lulus ujian nasional dan musti ikut ujian ulang hanya untuk dinyatakan lulus SMA.

Gue mulai panas ngeliat tingkah nih bocah pas gue kesrempet kasus antar kelas gara-gara dia. Ceritanya waktu itu dia lagi naksir Zulfi, senior setingkat di atas gue. Kebetulan tuh orang lagi deket sama gue, bukan apa-apa sih cuma sebatas bantuin dia deketin temen gue. intensitas ketemuan gue sama nih orang yang cukup sering rupanya bikin tuh bocah jadi sensi sama gue. Gak tau gimana dia nyritainnya, ujung-ujungnya seisi kelasnya jadi tau kasus ini. Parahnya cerita yang beredar itu salah karena gue dituduh ngrebut nih orang dari tangan tuh bocah, padahal semua orang tau kalo nih bocah naksir tuh orang. Damm it!

Sejak saat itu gue bener-bener perang sama nih bocah. Kalo gak urgent banget gue gak bakal sudi ngomong sama dia, walau cuma say "hai"...

Di kampus, sepak terjangnya makin menggila setelah ternyata Zulfi milih orang lain sebagai ceweknya. Bukan gue lah yg pasti. Prestasi belajar nih bocah melejit sampe langit. Beberapa kali IP tertinggi berhasil disabet olehnya. Puncaknya pas wisuda angkatan gue kemaren, dia dapet anugerah sebagai si empunya IPK tertinggi di jurusan gue.

Cabut dari kampus, gue sama dia sama-sama terbuang di negeri orang. Sedikit bangga sih nyadar kalo perusahaan yang merekrut gue jauh lebih besar daripada perusahaan tempat dia kerja. Of course, dari segi gaji maupun fasilitas gue menang telak dari dia. Mau gak mau setan dalam pikiran gue pun jingkrak-jingkrak, makan deh tuh IPK tertinggi...

Sibuk dengan urusan kerjaan membuat gue lupa sama nih bocah. Walau sesekali namanya masih tersebut jika gue lagi ngobrol sama kenalan yang kebetulan satu company dengan cowoknya.. (haha, akhirnya dia mau nerima lelaki lain sebagai kekasihnya.. menggantikan Zulfi yang dulu dia puja-puja sampe gue keseret-seret kasus paling konyol dan bodoh itu).

Sekarang bilangan hari hampir genap setaun sejak gue terakhir ketemu dia pas wisuda angkatan gue. Dan barusan tiba-tiba gue denger namanya ramai disebut temen-temen kuliah gue dulu di forum chatting. Kata kunci obrolan itu pun sangat mengejutkan menyapa telinga gue, "married diem-diem" dan "baby". Sejenak gue merangkai-rangkai... Dia sudah married diem-diem dan bahkan sekarang baby-nya sudah lahir.

Gue ketik email singkat ke sohib gue yang tempat kerjanya kebetulan deket sama office nih bocah. Sepuluh menit berlalu sebelum gue terima balasan yang tak kalah singkat dari sohib gue itu.
"Gue udah denger kalo dia nikah. MBA."
Gue sempet tertegun baca tiga huruf itu, MBA.. Married by Accident...

Sekali lagi pikiran gue melayang ke masa-masa yang udah gue ceritakan di atas. Cewek berpostur kecil dan ramping itu sebenernya cantik, meski dia gak berbakat jadi cewek manis. Gerak lincahnya cenderung menguatkan persepsi orang bahwa dia adalah anak manja, sangat manja. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dia juga cerdas dan ambisius. Sedetik berselang bayangan itu berganti menjadi imajinasi gue atas dirinya sekarang, telah bersuami dan memeluk bayi tak berdosa itu dalam gendongannya...




Tuhan,..
Sedemikian hebatkah efek buruk dari metropolitan hingga mereka berdua pun terseret ke salah satu sudut lembah dosa itu???