Jumat, 22 Januari 2010

Kecewa



Sedikit waktu yang kau miliki
luangkanlah
untuk ku harap secepatnya datangi aku
skali ini kumohon padamu
ada yang ingin kusampaikan,
sempatkanlah


hampa kesal dan amarah
sluruhnya ada di benakku


* andai seketika
hati yang tak terbalas
oleh cintamu

kuingin marah melampiaskan
tapi kuhanyalah sendiri di sini
ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
bahwa hatiku kecewa...


sedetik menunggumu di sini seperti seharian
berkali kulihat jam di tangan
demi membunuh waktu
tak kulihat tanda kehadiranmu
yang semakin meyakiniku
kau tak datang


* andai seketika
hati yang tak terbalas
oleh cintamu

kuingin marah melampiaskan
tapi kuhanyalah sendiri di sini
ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
bahwa hatiku kecewa...

Minggu, 10 Januari 2010

Mon Ci






Emang bener sih tadi pagi aku gak membuka mata sembari tersenyum lebar, tapi setidaknya aku masih memiliki sisa senyum kemaren malam saat aku kembali terhubung dengan salah satu temen lamaku jaman seragam putih-merah.

Yups! Kudapatkan juga emailnya sebagai modal awal buat sewaktu-waktu kalau aku pingin chatting sama dia (Akhirnya nih, setelah mencari sekian lama. Mungkin hampir tujuh taun. Keren gak tuh?)..

Hari ini kurasakan terlewati dengan cepat.
Baiklah, saatnya bercengkrama dengan mouse dan keyboard di sore yang mendung.

Bip, bip..
"Hai!" teman SD ku muncul di IM ku.
"Hey, Bro. Lagi ngapain sore-sore begini?"
"Mau nganter temen ke salon nih, rambutnya udah gondrong. Ntar keburu mirip mak lampir deh kalo gak segera dirapiin." ucapnya panjang lebar.
"Heh, mak lampir itu cewek. Kalo temenmu itu mah pak lampir namanya. Hahaha!" kutampilkan emoticons terbahak-bahak di akhir ketikanku.
"Sialan. Sejak kapan kamu pinter ngelawak? Prasaan kamu dulu pas SD jaim deh.."
"Mungkin aku dulu emang gak mengenal kamu dengan baik."
Hmmm?? Kalimat terakhirnya ini hanya kutanggapi dengan kerutan di dahi.

"Btw, kamu termasuk orang yang percaya cinta monyet gak?"
Pertanyaan itu terpampang di monitorku sekian detik kemudian.
"Percaya, banget." Jawabku asal.
"Kamu tau gak kalo kamu dulu cimonku pas kita masih SD?"
Apa?!?! Hahaha.. Aku tertawa sendiri di depan monitorku saat membaca tulisan itu muncul.
"Masa' sih??" sengaja kulempar pertanyaan yang sebenernya gak perlu ditanyakan.
"Ya gitu deh."
Sekali lagi aku tersenyum membaca reply dari seberang.

"Trus kalo kamu, siapa cimon nya pas SD?"
Nah loe, mati deh. Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga.
Jujur gak ya??
Baiklah, jujur aja. Tenang deh, toh gak bakal ngaruh ke apapun bukan?
"Kamu." Huufftthh, akhirnya berhasil jujur.
Dan sederet kalimat panjang itu me-reply jawabanku.
"Hehe.. Sebenernya cimonku dulu gak bertepuk sebelah tangan ya? Waah, rupanya aku aja yang gak nyadar nih.. Oke deh.. Bye bye!"

Dan icon IM nya langsung berubah warna jadi abu-abu,. Melarikan diri? Sungguh terlalu!!

Sepeninggalnya, aku masih terpaku di depan monitor. Kubaca berulang-ulang percakapanku dengannya barusan, memastikan bahwa aku tidak salah baca. Apa benar seperti itu??

Ingatanku menerawang ke masa lalu, sekitar sebelas hingga dua belas tahun silam.

Aku yang entah dari mana tiba-tiba dianugerahi gelar Sang Juara di sekolah, memiliki seorang sahabat, dia. Sekian tahun berselang, rasa memiliki sebagai sahabat itu akhirnya bermetamorfosis menjadi cinta, cinta monyet lebih tepatnya.

Selama ini aku tak pernah mencari tau bagaimana sesungguhnya perasaannya padaku. Mungkin pola pikir polos anak SD belum menuntut untuk melakukan hal itu. Yang paling penting saat itu, aku butuh dia, dan dia selalu ada. Merasa disayangi olehnya lebih dari teman-teman lain sudah lebih dari cukup.

Sampai akhirnya kami pun terpisah sekolah gara-gara gelar Sang Juara itu. Jauh, sangat jauh. Baru ketika menginjak bangku SMA, aku bertemu lagi dengannya di sebuah upacara kenegaraan. 17 Agustus maksudnya..

Dan pertemuan sekian menit itu kembali menyadarkanku bahwa hingga hari itu ternyata aku masih memegang teguh ekor sang monyet.

Aku tak pernah bertemu lagi dengannya hingga hari ini. Aku pun lupa untuk mencari tau apa arti diriku baginya dulu. Begitulah, dalam setiap komunikasi antara kami, tak pernah sedikitpun hal itu disinggung. Buat apa??

Satu hal yang sengaja kupungkiri, hingga hari ini aku masih memeluk ekor sang monyet kuat-kuat kemanapun aku pergi. Dan usahaku untuk membunuh monyet itu tak pernah berhasil. Rupanya dia bukan monyet sembarangan.


Hhheeehhhh,...
Akhirnya aku hanya bisa menghela nafas sendiri dan memutuskan mematikan monitorku. Biarlah, yang terjadi terjadilah. Setidaknya sekarang aku tau bahwa aku dulu pernah ada di hatinya. Sepertinya untuk sementara hal itu cukup. Sedangkan untuk sisanya, serahkan saja pada nasib. Hmmm, bukan. Serahkan saja pada suratan takdir dari Yang Maha Kuasa...


Dan tiba-tiba senyumku terasa ringan. Aku ingin tersenyum, tersenyum dan tersenyum lagi. Buat apa?? Entahlah....