19 Agustus
* Shinta: Loe tau Pras? Semua yg loe omongin ke gue tuh bullshits! Cukup, gue gak bisa jalan sama loe lagi. Muna loe!!
* Winda: Lho mbak, kok tiba-tiba bubar sama mas Pras? Kenapa mbak?
* Pras: Ya gitu Win, aku gak tau kenapa tiba-tiba mbak mu bersikap gitu...
---
12 Desember
Kreeeekkkk...! Pintu geser itu terbuka lebar dan sesosok perempuan mungil masuk sambil bertelepon ria dengan hp nya. Sekilas dia melempar senyum padaku yg sedang menonton tv di ruang depan. Iseng aku bertanya dalam hati, tumben jam segini miss ring-ring ini bertelepon ria? Biasane kan pagi-pagi.. Ah, apa peduliku?
Sejam kemudian...
"Mbak, dapat salam dari mas Pras." ucapnya polos. Pras?? Ternyata Pras yg menelepon. Mau apa lagi dia?! Mendengar namanya disebut saja aku sudah males banget. Dan aku cuma membalas pemberitahuan itu dengan senyum tanpa makna. Males.
-----
6 Januari
"Mbak Nora, Winda kemana ya? Kok kamarnya tutupan?"
"Keluar dari tadi sore, katanya sih sama temennya. Rapi kok."
Hah? Sejak kapan dia keluar sama temen-temennya pas malem minggu? Gak biasane...
-----
7 Januari di tempat cucian..
"Duh mbak Shin, gak kurang banyak tuh nyucinya? Baju selemari kok dicuci semua?"
Aku menoleh pada asal suara, kemudian melemparkan sekilas senyum padanya.
"Waduh, tau gak sih aku tadi malem maen kucing-kucingan? Pas aku di butik nyari sepatu, lhah ternyata ada temen kampusku juga nyari sepatu. Kontan deh aku ngumpet-ngumpet gak jelas gitu."
"Lha kenapa musti ngumpet? Kok gak disapa aja temennya itu?" tanya ku polos tanpa mengalihkan pandangan dari cucian di depanku.
"Ya gak mungkin lah, bisa geger besok di fakultas kalo aku ketauan jalan sama cowok. Aku kan semalem jalan sama mas Pras.."
What??!! Ekspresi normalku seharusnya adalah kaget setengah mati sambil menoleh tanda tak percaya kepadanya. Tapi aku tidak bersikap normal. Maka yang terjadi adalah aku meneruskan pekerjaanku dan hanya bertanya lagi dengan sambil lalu, "Lha emang kenapa kalo jalan sama Pras? Kan gak masalah biarpun ketemu mereka?"
"What??!! Enggak deh mbak, makasih.."
"Hahaha... Ada-ada aja." kukeluarkan komentar itu sedatar mungkin.
-----
9 Januari jam 9 malam...
Aku berniat menelepon Pras,..
Tuuuttt,... Third party calling... Your number called is busy, please try again latter.
Dengan iseng kucoba menekan nomor hp Winda,..
Tuuuttt,... Third party calling... Your number called is busy, please try again latter.
What??
Ah, mungkin hanya kebetulan...
-----
10 Januari jam 10 malam
Aku benar-benar merasa haus. Kupaksakan kakiku melangkah ke tempat air mineral di depan kamar Winda. Sumpah aku tak berniat menguping, tapi aku sungguh mendengar di dalam kamarnya Winda sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Pras.
Cukup! Hentikan segala ketidakbergunaan ini. Aku tidak mau tau lagi..
-----
7 Februari pagi...
"Shin, jogging yuk!" Rey berteriak dari kamarnya.
"Kesiangan, Rey. Udah jam 6 lewat nih..."
"Udah, cuek aja. Orang-orang juga baru berangkat kok. Yuk!"
Kuikuti langkah kaki Rey menuruni tangga menuju halaman depan. Tanpa prasangka kudorong pintu gerbang depan dan langsung membelok ke kiri menuju lapangan jogging. Baru dua meter aku meninggalkan pintu gerbang, samar-samar aku mendengar suara Winda memanggil namaku dari arah belakang.
Sepersekian detik kemudian aku menoleh ke arah Winda, mengetahui dengan pasti bahwa dia sedang ada di sudut jalan bersama Pras, kembali membalik badan sambil melambai ke arah Winda untuk menjawab panggilannya tadi, sekaligus bersandiwara seolah aku tak melihat keberadaan Pras. Dan aku segera meneruskan langkahku ke tempat jogging.
Mereka masih tetap berhubungan....
-----
Jam 3 sore,..
Ddrrrt ddrrrttt. Hp ku bergetar pelan. Pras calling..
"Halo, Pras?"
"Hei, Shin. Apa kabar? Lagi sibuk banget ya kayaknya?"
"Baik. Sibuk apa maksudnya nih? Prasaan aku biasa aja.."
"Ya gitu deh. Seperti yg terlihat tadi pagi, bahkan untuk ngobrol sama aku aja kamu gak ada waktu."
"Jangan berlebihan deh Pras. Kamu kan ke kos ku bukan untuk ketemu aku. Aku gak mau mengganggu, aku tau diri kok."
"Kok gitu sih kamu ngomongnya, Shin. Tau gak kalo itu bikin Winda serba salah?!"
"Winda?? Apa urusanku sama Winda?"
"Sikapmu itu yg bikin Winda gak enak hati."
"Owh,.. Jadi gitu. Jadi kamu nelpon cuma buat mengatakan itu. Oke, aku tegaskan di sini Pras. Aku gak ada masalah sama Winda. Terserah kalian mau percaya atau tidak, itu urusan kalian."
"Syukurlah kalo begitu. Thanks ya Shin.."
"Sama-sama."
Kututup telepon itu dengan geram. Apa maksudnya Winda mengadu seperti itu sama Pras??
-----
12 Maret..
Sudah lama aku tidak membuka akun ku di berbagai jejaring sosial yg kuikuti. Hari ini tak ada salahnya aku menengok sedikit perkembangan di dunia maya itu. LOGIN. OK.
Kubaca satu-satu berita di halaman depan hasil posting dari rekan-rekanku. Dan mataku menangkap notifikasi di belakang akun Pras. "Pras is now friend with Nisa"
Nisa sohibnya Winda.
Dan aku berhenti sampai di situ. Berpikir apa yg sebenarnya kupikirkan tentang semua ini.
Ini adalah sebuah bangun berbentuk persegi dengan empat sisi yg sudah paten kukuh terbentuk. Kemanapun aku melangkah, aku lagi-lagi akan terbentur pada salah satu dari keempat sisi persegi itu...
Dan demikianlah semua akan berakhir begitu saja,...