Rabu, 29 Juli 2009

Kelip di Langit Malam,.

Langit malam Jakarta 17 Maret terlihat cerah. Hanya awan tipis yang menggantung di sudut cakrawala ibu kota. Berawal dari rasa penasaran ingin menikmati indahnya malam dari teras lantai 2 yang temaram, aku melangkah ke sudut teras paviliun mereka. Memang bukan pemandangan yang menakjubkan yang tersaji, justru terawangan ke langit malam ku terhalang oleh dinding menjulang dari gedung berlantai 7 yang sedang dibangun tepat di depan teras itu. Syukurlah, di sudut kiri masih ada sedikit celah ruang kosong yang bisa menembus ke arah langit malam..

Kunikmati sepotong keindahan langit beserta 2 bintang yang tertangkap mataku yang sebenarnya sangat penat dan mengantuk. Aku tersenyum sendiri ketika kurasakan damai menyentuh kalbuku yang mulai gersang. Tuhan, Maha Besar Engkau dengan segala ciptaan-Mu.

Detik berikutnya, bayangan itu tertangkap lensa mataku. Lampu kecil berkelip di langit itu bergerak perlahan namun pasti. Pesawat, aku tau itu pesawat yang baru tinggal landas dari Cengkareng. Sejenak hatiku terasa senyap. Aku merasa mematung dan membeku di tengah gejolak perasaanku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang teramat sangat dan sungguh tak tertahankan kepadanya. Tiba-tiba aku merasa begitu kehilangan dia, aku merasa jauh dan sangat jauh darinya. Dia yang dengan segenap racunnya dapat membunuh aku dan akal sehatku. Dia yang membuatku membenci pesawat, karena dia meninggalkanku bersama pesawat itu.

Kelip di langit itu bergerak menjauh dan semakin jauh. Dan kurasakan seolah dia pun tersenyum dan melambai padaku mengucapkan selamat tinggal. Aku menangis dalam hati. Tuhan, betapa ternyata aku sangat menyayanginya. Betapa ternyata dia berarti untukku. Betapa ternyata aku butuh dia, Tuhan. Dan betapa sebenarnya aku tak mampu memahami maksud hatiku sendiri padanya.


Malam ini aku terserak di sudut keremangan sebuah gang kecil, ironis karena itu terjadi hanya untuk mengantri membeli makan malam. Di sini, di kota indah yang terpancang jauh di luar Jakarta. Terbersit pilu ketika menatap langit di kejauhan, aku menangkap kelip lampu itu lagi di mataku, sejenak setelah tinggal landas dari Abdurrahman Saleh rupanya. Malam ini, sekian bulan dari malam itu, dan 1000 km dari paviliun berlantai dua di Jakarta dulu. Ada satu yang tidak berubah, yang tetap kurasakan. Senyap yang tiba-tiba datang menyergap ketika memandang kelip lampu itu di langit malam.

Meski sekarang ada yang berubah, karena dia telah jadi milikku. Tuhan telah berbaik hati menyampaikan maksud hatiku padanya, yang selama ini terpendam. Namun kembali malam ini aku merindukan kehadirannya di sisiku. Menyadari bahwa dia pergi bertugas dengan pesawat itu membuatku semakin tak bisa menghilangkan kebencian pada pesawat.. Sekali lagi, kelip di langit itu bergerak menjauh dan semakin jauh.


Dalam sholatku aku bersimpuh, berdoa. Tuhan, jagalah dia di sana. Mudahkanlah segala urusannya. Dan bawalah dia kembali kepadaku, dengan ridho-Mu. Amin..


Miss u beibz,.

Senin, 27 Juli 2009

Di Balik Cerita Itu..

Temen gue udah banyak yang pada jadi orang sekarang. 3 rival terberat gue di SD dulu contohnya. Mas Gigih dah jadi pegawai BPK dan ditempatin di Denpasar dengan full fasilitas, Mas Reni udah jadi salah satu komandan AD di Jogja and Mbak Putri udah jadi Psikolog terkenal di Surabaya. Sedih sih menyadari hal itu, dan mau gak mau bakal ada seberkas rasa sesal yang menampar gue dari belakang, siapa gue sekarang???

Tapi gimanapun gue masih bersyukur karena kondisi ini akibat dari pilihan hidup yang gue ambil sendiri. Seenggaknya gue udah berani nentuin sikap. Gue gak mau terus terbelenggu kayak dulu dimana gue hidup berlimpah duit tapi gue gak bahagia, depresi bahkan. Dan tiap malem gue selalu mimpi buruk, yang akan semakin buruk ketika esok paginya mimpi itu jadi kenyataan..

Tak henti2 gue menghibur diri sendiri biar gak sampe down, biar gue tetep bisa hidup normal. Menurut gue, cukup gue aja yang tau betapa sebenernya gue juga kuatir gimana hari esok gue nantinya. Gue berharap gue bisa terus yakin bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Dan jika hal ini udah bener2 terjadi, berarti Tuhan udah mengijinkan hal ini terjadi. Itu juga berarti ini yang terbaik bagi gue, menurut Tuhan. Selama ini, Tuhan selalu punya rencana indah buat hamba-Nya..

Jika hari ini akhirnya loe baca surat gue ini, mungkin emang udah kehendak Tuhan seperti itu. Sayangnya, berarti inilah titik puncak pertahanan gue sebelum gue akhirnya harus menyerah. Gue pamit...





Aku melipat kertas kusam itu dan memasukkannya ke tempat semula, sebuah amplop pink yang juga tak kalah usang. Tahun lalu, di hari yang sama dengan hari ini, aku menerima surat itu dari seorang kurir jasa transportasi di sore yang mendung. Bahkan sampe sekarang, aku masih belum percaya bahwa surat itu ditulis sendiri olehnya sebagai salam perpisahan...




Senin, 13 Juli 2009

Sebuah Cerita Aneh


Kuajari tentang sebuah cerita aneh. Bayangkan posisimu bukan di sini, tapi kau adalah dia. Mulailah!


Suatu hari, ingatkah kau pada hari itu? Kau berjalan dengan penuh harap menuju suatu ruangan kecil tempat dimana biasanya kalian, kau dan mereka, bekerja sepanjang hari menghabiskan waktu luang selepas jam kuliah.
Oh, tidak. Jarak ruangan itu semakin dekat dan jantungmu pun berdegup semakin kencang. Ada apakah gerangan? Ah, iya. Kau ingat! Bukankah tujuanmu kesana tadi tidaklah untuk menemui teman-temanmu? Kau kesana hanya untuk menemui satu orang dan jujur kau berharap dia masih ada di sana, sendirian tentu akan lebih baik.

Yah! Itu dia. Ruangan itu sudah terlihat olehmu, dan…pintunya terbuka! Sepasang sandal aneh membuatmu mengembangkan senyum. Kau tau pasti siapa pemilik sandal itu. Sepasang. Ya, hanya sepasang. Langkahmu yang hanya tinggal dalam hitungan jari dari pintu itu terasa teramat ringan. Oh, apakah kau benar-benar sedang melayang?

Ah, sampai juga kau di depan pintu itu.
Hmm..h, kau menarik napas panjang dan bersiap masuk. Assalamu'alaikum…
Salam itu terasa tak lengkap kau ucapkan. Kau hanya bisa terperangah heran bercampur sebal, benci dan tidak terima melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Kalian pasti heran, apa sih yang terlihat oleh tokoh kita ini?

Bayangkan saja!
Kau melihat orang yang sebetulnya sangat kau cintai, yang tidak bisa kau temui dalam beberapa hari ini, berdua saja dengan adik tingkatmu di sana. Ingin rasanya kau mengeluarkan semua umpatan yang pernah kau dengar.
Dosa tau!
Tapi kau benar-benar tidak terima!
Apa-apaan ini?! Kau yang sudah mengharapkan sesuatu yang selama ini kau tunggu, tiba-tiba harus kecewa gara-gara anak kecil itu. "Siapa sih loe? Ngapain di sini? Menyingkirlah darinya!" Ingin rasanya kau mengucapkan kata-kata itu padanya.

Hal yang terasa paling menyebalkan adalah ketika dia menyapamu dengan muka manis tanpa dosa. “Dari mana mbak?” Kau terpaksa tersenyum dan menjawab sekenanya, meski dalam hati kau pun mengumpat.

Kau, dengan penuh amarah mulai berpikir dan menganalisa. Apa yang mereka lakukan? Aku tidak terima. Harusnya aku yang bersamanya. Meski sebenarnya hati kecilmu mengetahui sebuah fakta. Mereka tidak melakukan apa-apa. Tempatnya saja berjauhan. Si kecil sedang sibuk dengan tugas laporannya. Dan orang yang kau cari itu sebenarnya sedang terlelap ke dunia lain. Tapi egomu berkeras bahwa kau harus marah!

Sekarang rubahlah sudut pandangmu!

Duduklah di salah satu sisi ruangan kecil itu dan kerjakanlah tugasmu membuat laporan. Ada sesosok gadis cantik berdiri di depan pintu, mengucap salam. Namun sedetik kemudian, kau melihat perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba menjadi sangat kecewa. Tapi kau juga tahu bahwa dia berusaha menyembunyikannya darimu. Lucu. Tak lama, kau pun sadar. Kakakmu itu sedang marah.

Semula kau pun bertanya, ”Kenapa dia marah?”
Akhirnya kau menyadari satu hal. Dia salah paham. Sebelum pikiran dan ide usilmu bekembang, buru-buru kau bersikap bijak. Kau mencoba berpikir, bagaimana seandainya kau yang ada di posisinya? Karena itulah kau langsung bersikap manis, menyapanya, dan berusaha meyakinkannya dengan sikapmu yang simpatik.

Andai kau tau bahwa dia berpikir lain. Ah, tidak. Kau memang benar-benar tau bahwa dia berpikir lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah :
” Kenapa kau merasa senang ketika tau bahwa dia salah berpikir?”


Kembalilah ke posisimu sebagai pembaca. Menurutmu, siapakah yang salah?

Minggu, 05 Juli 2009

Aku dan Dia tentunya,.

Awalnya, mengikuti jejak hidupnya serasa sangat membosankan. Bahkan ketika sudah menginjak bilangan tahun aku menguntitnya, aku masih belum tau siapa dia. Dan mungkin sebuah deskripsi yang paling mengherankan adalah aku benar-benar tidak tau mengapa aku masih saja terus mengikuti dia dengan berbagai cerita hidupnya itu. Yah, aku hanya berharap bahwa suatu hari aku akan menemukan jawaban atas semua ini. He he he,. Dan beegitulah, perjalananku pun dimulai sejak saat itu..