Kunikmati sepotong keindahan langit beserta 2 bintang yang tertangkap mataku yang sebenarnya sangat penat dan mengantuk. Aku tersenyum sendiri ketika kurasakan damai menyentuh kalbuku yang mulai gersang. Tuhan, Maha Besar Engkau dengan segala ciptaan-Mu.
Detik berikutnya, bayangan itu tertangkap lensa mataku. Lampu kecil berkelip di langit itu bergerak perlahan namun pasti. Pesawat, aku tau itu pesawat yang baru tinggal landas dari Cengkareng. Sejenak hatiku terasa senyap. Aku merasa mematung dan membeku di tengah gejolak perasaanku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang teramat sangat dan sungguh tak tertahankan kepadanya. Tiba-tiba aku merasa begitu kehilangan dia, aku merasa jauh dan sangat jauh darinya. Dia yang dengan segenap racunnya dapat membunuh aku dan akal sehatku. Dia yang membuatku membenci pesawat, karena dia meninggalkanku bersama pesawat itu.
Kelip di langit itu bergerak menjauh dan semakin jauh. Dan kurasakan seolah dia pun tersenyum dan melambai padaku mengucapkan selamat tinggal. Aku menangis dalam hati. Tuhan, betapa ternyata aku sangat menyayanginya. Betapa ternyata dia berarti untukku. Betapa ternyata aku butuh dia, Tuhan. Dan betapa sebenarnya aku tak mampu memahami maksud hatiku sendiri padanya.
Malam ini aku terserak di sudut keremangan sebuah gang kecil, ironis karena itu terjadi hanya untuk mengantri membeli makan malam. Di sini, di kota indah yang terpancang jauh di luar Jakarta. Terbersit pilu ketika menatap langit di kejauhan, aku menangkap kelip lampu itu lagi di mataku, sejenak setelah tinggal landas dari Abdurrahman Saleh rupanya. Malam ini, sekian bulan dari malam itu, dan 1000 km dari paviliun berlantai dua di Jakarta dulu. Ada satu yang tidak berubah, yang tetap kurasakan. Senyap yang tiba-tiba datang menyergap ketika memandang kelip lampu itu di langit malam.
Dalam sholatku aku bersimpuh, berdoa. Tuhan, jagalah dia di sana. Mudahkanlah segala urusannya. Dan bawalah dia kembali kepadaku, dengan ridho-Mu. Amin..
