Kuajari tentang sebuah cerita aneh. Bayangkan posisimu bukan di sini, tapi kau adalah dia. Mulailah!
Suatu hari, ingatkah kau pada hari itu? Kau berjalan dengan penuh harap menuju suatu ruangan kecil tempat dimana biasanya kalian, kau dan mereka, bekerja sepanjang hari menghabiskan waktu luang selepas jam kuliah.
Oh, tidak. Jarak ruangan itu semakin dekat dan jantungmu pun berdegup semakin kencang. Ada apakah gerangan? Ah, iya. Kau ingat! Bukankah tujuanmu kesana tadi tidaklah untuk menemui teman-temanmu? Kau kesana hanya untuk menemui satu orang dan jujur kau berharap dia masih ada di sana, sendirian tentu akan lebih baik.
Yah! Itu dia. Ruangan itu sudah terlihat olehmu, dan…pintunya terbuka! Sepasang sandal aneh membuatmu mengembangkan senyum. Kau tau pasti siapa pemilik sandal itu. Sepasang. Ya, hanya sepasang. Langkahmu yang hanya tinggal dalam hitungan jari dari pintu itu terasa teramat ringan. Oh, apakah kau benar-benar sedang melayang?
Ah, sampai juga kau di depan pintu itu.
Hmm..h, kau menarik napas panjang dan bersiap masuk. Assalamu'alaikum…
Salam itu terasa tak lengkap kau ucapkan. Kau hanya bisa terperangah heran bercampur sebal, benci dan tidak terima melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Kalian pasti heran, apa sih yang terlihat oleh tokoh kita ini?
Bayangkan saja!
Kau melihat orang yang sebetulnya sangat kau cintai, yang tidak bisa kau temui dalam beberapa hari ini, berdua saja dengan adik tingkatmu di sana. Ingin rasanya kau mengeluarkan semua umpatan yang pernah kau dengar. Dosa tau!
Tapi kau benar-benar tidak terima!
Apa-apaan ini?! Kau yang sudah mengharapkan sesuatu yang selama ini kau tunggu, tiba-tiba harus kecewa gara-gara anak kecil itu. "Siapa sih loe? Ngapain di sini? Menyingkirlah darinya!" Ingin rasanya kau mengucapkan kata-kata itu padanya.
Hal yang terasa paling menyebalkan adalah ketika dia menyapamu dengan muka manis tanpa dosa. “Dari mana mbak?” Kau terpaksa tersenyum dan menjawab sekenanya, meski dalam hati kau pun mengumpat.
Kau, dengan penuh amarah mulai berpikir dan menganalisa. Apa yang mereka lakukan? Aku tidak terima. Harusnya aku yang bersamanya. Meski sebenarnya hati kecilmu mengetahui sebuah fakta. Mereka tidak melakukan apa-apa. Tempatnya saja berjauhan. Si kecil sedang sibuk dengan tugas laporannya. Dan orang yang kau cari itu sebenarnya sedang terlelap ke dunia lain. Tapi egomu berkeras bahwa kau harus marah!
Sekarang rubahlah sudut pandangmu!
Duduklah di salah satu sisi ruangan kecil itu dan kerjakanlah tugasmu membuat laporan. Ada sesosok gadis cantik berdiri di depan pintu, mengucap salam. Namun sedetik kemudian, kau melihat perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba menjadi sangat kecewa. Tapi kau juga tahu bahwa dia berusaha menyembunyikannya darimu. Lucu. Tak lama, kau pun sadar. Kakakmu itu sedang marah.
Semula kau pun bertanya, ”Kenapa dia marah?”
Akhirnya kau menyadari satu hal. Dia salah paham. Sebelum pikiran dan ide usilmu bekembang, buru-buru kau bersikap bijak. Kau mencoba berpikir, bagaimana seandainya kau yang ada di posisinya? Karena itulah kau langsung bersikap manis, menyapanya, dan berusaha meyakinkannya dengan sikapmu yang simpatik.
Andai kau tau bahwa dia berpikir lain. Ah, tidak. Kau memang benar-benar tau bahwa dia berpikir lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah :
” Kenapa kau merasa senang ketika tau bahwa dia salah berpikir?”
Kembalilah ke posisimu sebagai pembaca. Menurutmu, siapakah yang salah?
Suatu hari, ingatkah kau pada hari itu? Kau berjalan dengan penuh harap menuju suatu ruangan kecil tempat dimana biasanya kalian, kau dan mereka, bekerja sepanjang hari menghabiskan waktu luang selepas jam kuliah.
Oh, tidak. Jarak ruangan itu semakin dekat dan jantungmu pun berdegup semakin kencang. Ada apakah gerangan? Ah, iya. Kau ingat! Bukankah tujuanmu kesana tadi tidaklah untuk menemui teman-temanmu? Kau kesana hanya untuk menemui satu orang dan jujur kau berharap dia masih ada di sana, sendirian tentu akan lebih baik.
Yah! Itu dia. Ruangan itu sudah terlihat olehmu, dan…pintunya terbuka! Sepasang sandal aneh membuatmu mengembangkan senyum. Kau tau pasti siapa pemilik sandal itu. Sepasang. Ya, hanya sepasang. Langkahmu yang hanya tinggal dalam hitungan jari dari pintu itu terasa teramat ringan. Oh, apakah kau benar-benar sedang melayang?
Ah, sampai juga kau di depan pintu itu.
Hmm..h, kau menarik napas panjang dan bersiap masuk. Assalamu'alaikum…
Salam itu terasa tak lengkap kau ucapkan. Kau hanya bisa terperangah heran bercampur sebal, benci dan tidak terima melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Kalian pasti heran, apa sih yang terlihat oleh tokoh kita ini?
Bayangkan saja!
Kau melihat orang yang sebetulnya sangat kau cintai, yang tidak bisa kau temui dalam beberapa hari ini, berdua saja dengan adik tingkatmu di sana. Ingin rasanya kau mengeluarkan semua umpatan yang pernah kau dengar. Dosa tau!
Tapi kau benar-benar tidak terima!
Apa-apaan ini?! Kau yang sudah mengharapkan sesuatu yang selama ini kau tunggu, tiba-tiba harus kecewa gara-gara anak kecil itu. "Siapa sih loe? Ngapain di sini? Menyingkirlah darinya!" Ingin rasanya kau mengucapkan kata-kata itu padanya.
Hal yang terasa paling menyebalkan adalah ketika dia menyapamu dengan muka manis tanpa dosa. “Dari mana mbak?” Kau terpaksa tersenyum dan menjawab sekenanya, meski dalam hati kau pun mengumpat.
Kau, dengan penuh amarah mulai berpikir dan menganalisa. Apa yang mereka lakukan? Aku tidak terima. Harusnya aku yang bersamanya. Meski sebenarnya hati kecilmu mengetahui sebuah fakta. Mereka tidak melakukan apa-apa. Tempatnya saja berjauhan. Si kecil sedang sibuk dengan tugas laporannya. Dan orang yang kau cari itu sebenarnya sedang terlelap ke dunia lain. Tapi egomu berkeras bahwa kau harus marah!
Sekarang rubahlah sudut pandangmu!
Duduklah di salah satu sisi ruangan kecil itu dan kerjakanlah tugasmu membuat laporan. Ada sesosok gadis cantik berdiri di depan pintu, mengucap salam. Namun sedetik kemudian, kau melihat perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba menjadi sangat kecewa. Tapi kau juga tahu bahwa dia berusaha menyembunyikannya darimu. Lucu. Tak lama, kau pun sadar. Kakakmu itu sedang marah.
Semula kau pun bertanya, ”Kenapa dia marah?”
Akhirnya kau menyadari satu hal. Dia salah paham. Sebelum pikiran dan ide usilmu bekembang, buru-buru kau bersikap bijak. Kau mencoba berpikir, bagaimana seandainya kau yang ada di posisinya? Karena itulah kau langsung bersikap manis, menyapanya, dan berusaha meyakinkannya dengan sikapmu yang simpatik.
Andai kau tau bahwa dia berpikir lain. Ah, tidak. Kau memang benar-benar tau bahwa dia berpikir lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah :
” Kenapa kau merasa senang ketika tau bahwa dia salah berpikir?”
Kembalilah ke posisimu sebagai pembaca. Menurutmu, siapakah yang salah?
Sebenarnya tidak ada yang salah. baik itu si kecil, si tamu, ataupun si tukang tidur. Hanya saja, setting lokasi yang tidak disengaja inilah yang membuat semua tampak lain dari yang sbenarnya tjadi. Kalau saja salah satu tokoh ini tidak di sana, tentu tidak akan ada masalah. Ataupun ketika tokoh lain coba kita tambahkan di setting ini. tentu akan berimbas serupa.
BalasHapusSebenarnya seh ini hanya masalah persepsi. Misalkan aku mengmbil sudut pandang "tamu". maka aku akan balik bertanya pada diriku sendiri. Pada situasi seperti ini, manakah yang sebenarnya memaksa pikiranku berfikiran buruk.?
1. Apakah situasi mereka yang hanya berdua saja di ruangan itu.?
2. Apakah posisi mereka yang tampak "dekat" olehku padahal sebenarnya masih berjarak.?
Analisanya cukup simpel. Mari kita ganti setting ruangan itu sebagai angkot. dan kita coba jawab kedua pertanyaan tadi.
1. Hanya tinggal mereka berdua yang duduk di belakang sopir karena beberapa penumpang lain telah menemui tujuannya dibelakang tadi.
2. Mereka berdua duduk bukan hanya berdekatan, melainkan saling berimpitan karena waktu itu ada sekitar 13 orang lainnya yang berada di angkot yang sama.
Dengan setting ke 2 seperti tadi, masihkan si "tamu" akan merasakan sensasi yang sama seperti kejadian di setting pertama.?
Huft,.. manusia memang makhluk lemah yang bahkan tidak memiliki kendali penuh atas hati dan pikirannya sendiri.