
"Permisi, Pak. Kami berdua berangkat sekarang."
Si bos yang sudah lewat paruh baya itu hanya mengangguk. "Jangan lupa besok Senin masuk kantor tepat waktu ya?"
Pesan terakhirnya itu serasa hanya angin lalu sebab aku dan temanku sudah menghambur menuju pintu keluar dan tancap gas bersama tukang ojek, menerjang gerimis lebat menuju stasiun. Kurang dari sejam lagi kereta kami akan segera meninggalkan ibu kota menuju Surabaya.
Dengan 3 lembar tiket tergenggam di tangan, aku melangkah masuk menerobos kerumunan ratusan calon penumpang. Temanku itu hanya mengekor karena dia belum begitu mahfum soal stasiun besar ini dan perjalanan panjang yg akan kami tempuh nantinya.
Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil menemukan sosoknya tengah berdiri di antara calon penumpang yg lain. Hmmhh, kasian.. Dia masih tampak sangat lelah setelah perjalanan jauh dari tempat kerjanya. Sebersit rasa senang menghampiriku. Pada wisuda esok hari aku dengan bangga akan memakai toga ku dan berjalan di sisi nya. Hehe..
Ddrrrtttt... ddrrrttt...
HP ku bergetar untuk kesekian kalinya. Owh Tuhan, aku lupa! Masih ada satu teman kerjaku yg belum mendapat tiket pulang untuk wisuda besok. Sms darinya mengingatkanku untuk segera mengantri di loket lagi dan berharap semoga masih ada sisa tiket hari itu. Meski aku yakin kemungkinannya sangat kecil. Dia butuh keajaiban untuk bisa mendapat tiket pulang.
Sepuluh menit aku mengekor di belakang antrian panjang perebutan sisa tiket itu ketika sekilas aku melihatnya menerima telepon. Kusadari raut mukanya berubah ketika berjalan mendekatiku.
"Gak usah antri tiket lagi. Kasikan tiketku sama temenmu. Aku gak jadi ikut pulang. Mendadak aku ada acara keluarga di sini, acaranya besok. Dan sekarang keluargaku sudah dalam perjalanan ke sini."
"Iya."
Hanya aku yg tau kalo jawabanku sebenarnya lebih dari kata "iya" itu. Menurutmu apa yg aku pikirkan saat itu? Ya sudahlah tidak penting. Yang kuingat saat itu aku hanya ingin segera berangkat, sebelum terjadi reaksi yg berlebihan dari alam bawah sadarku.
Teman kantorku itu sampai di stasiun tepat pada waktunya. Setelah berpamitan sewajarnya, aku dan mereka berdua segera masuk ke peron keberangkatan, meninggalkan dia di sana sendiri. Aku tidak menoleh lagi, hanya berjalan lurus masuk kereta dan segera menemukan kursiku. Kupilih duduk bersama orang yg tidak kukenal dan sepanjang malam menghabiskan setengah gulung tissue yg selalu ada di tasku. Sementara di kursi sebelah, dua orang temanku itu hanya saling berpandangan dan sama-sama mengangkat bahu melihat kondisiku.
Hampir setaun sejak tragedi wisuda itu, kadang aku masih miris mengingat perpisahanku dengannya di pintu stasiun. Mengingat dengan jelas betapa wisuda itu akhirnya menjadi mummi berbalut tissue yg selalui menghantui di mataku. Namun, aku tak pernah menyesali kejadian itu. Tuhan memang Maha Adil. Di balik semua rasa getir tak terkira yang pernah kurasakan, aku dan dia masih bisa tersenyum bersama ketika kami melihat dua orang temanku itu sekarang menjadi sepasang kekasih dan berbahagia. Hehe, tiket kereta malam itulah yg telah menyatukan mereka berdua. Tiket kereta yg harusnya membawa dia pulang menghadiri wisudaku.. Semua memang sudah diatur.. ^^
Dedicated for:
my pussy,.. piss yah?? ^^V
all my beloved friends in T*Y**A,.. what a sweet memories..
both of my senior,.. jgn terulang sabtu besok lho?
