Minggu, 25 Oktober 2009

Senyum adalah Hikmahnya,..


"Permisi, Pak. Kami berdua berangkat sekarang."
Si bos yang sudah lewat paruh baya itu hanya mengangguk. "Jangan lupa besok Senin masuk kantor tepat waktu ya?"


Pesan terakhirnya itu serasa hanya angin lalu sebab aku dan temanku sudah menghambur menuju pintu keluar dan tancap gas bersama tukang ojek, menerjang gerimis lebat menuju stasiun. Kurang dari sejam lagi kereta kami akan segera meninggalkan ibu kota menuju Surabaya.


Dengan 3 lembar tiket tergenggam di tangan, aku melangkah masuk menerobos kerumunan ratusan calon penumpang. Temanku itu hanya mengekor karena dia belum begitu mahfum soal stasiun besar ini dan perjalanan panjang yg akan kami tempuh nantinya.


Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil menemukan sosoknya tengah berdiri di antara calon penumpang yg lain. Hmmhh, kasian.. Dia masih tampak sangat lelah setelah perjalanan jauh dari tempat kerjanya. Sebersit rasa senang menghampiriku. Pada wisuda esok hari aku dengan bangga akan memakai toga ku dan berjalan di sisi nya. Hehe..


Ddrrrtttt... ddrrrttt...
HP ku bergetar untuk kesekian kalinya. Owh Tuhan, aku lupa! Masih ada satu teman kerjaku yg belum mendapat tiket pulang untuk wisuda besok. Sms darinya mengingatkanku untuk segera mengantri di loket lagi dan berharap semoga masih ada sisa tiket hari itu. Meski aku yakin kemungkinannya sangat kecil. Dia butuh keajaiban untuk bisa mendapat tiket pulang.


Sepuluh menit aku mengekor di belakang antrian panjang perebutan sisa tiket itu ketika sekilas aku melihatnya menerima telepon. Kusadari raut mukanya berubah ketika berjalan mendekatiku.

"Gak usah antri tiket lagi. Kasikan tiketku sama temenmu. Aku gak jadi ikut pulang. Mendadak aku ada acara keluarga di sini, acaranya besok. Dan sekarang keluargaku sudah dalam perjalanan ke sini."
"Iya."


Hanya aku yg tau kalo jawabanku sebenarnya lebih dari kata "iya" itu. Menurutmu apa yg aku pikirkan saat itu? Ya sudahlah tidak penting. Yang kuingat saat itu aku hanya ingin segera berangkat, sebelum terjadi reaksi yg berlebihan dari alam bawah sadarku.


Teman kantorku itu sampai di stasiun tepat pada waktunya. Setelah berpamitan sewajarnya, aku dan mereka berdua segera masuk ke peron keberangkatan, meninggalkan dia di sana sendiri. Aku tidak menoleh lagi, hanya berjalan lurus masuk kereta dan segera menemukan kursiku. Kupilih duduk bersama orang yg tidak kukenal dan sepanjang malam menghabiskan setengah gulung tissue yg selalu ada di tasku. Sementara di kursi sebelah, dua orang temanku itu hanya saling berpandangan dan sama-sama mengangkat bahu melihat kondisiku.


Hampir setaun sejak tragedi wisuda itu, kadang aku masih miris mengingat perpisahanku dengannya di pintu stasiun. Mengingat dengan jelas betapa wisuda itu akhirnya menjadi mummi berbalut tissue yg selalui menghantui di mataku. Namun, aku tak pernah menyesali kejadian itu. Tuhan memang Maha Adil. Di balik semua rasa getir tak terkira yang pernah kurasakan, aku dan dia masih bisa tersenyum bersama ketika kami melihat dua orang temanku itu sekarang menjadi sepasang kekasih dan berbahagia. Hehe, tiket kereta malam itulah yg telah menyatukan mereka berdua. Tiket kereta yg harusnya membawa dia pulang menghadiri wisudaku.. Semua memang sudah diatur.. ^^





Dedicated for:
my pussy,.. piss yah?? ^^V
all my beloved friends in T*Y**A,.. what a sweet memories..
both of my senior,.. jgn terulang sabtu besok lho?
yg baca,.. jgn diambil hati.. cuma keisengan dlm rangka menyambut wisuda poltek 2009.. :D

Rabu, 14 Oktober 2009

Minus one,..

Tak pernah terpikir olehku,
Tak sedikit pun kubayangkan...


Bagi fans ST 12, bait di atas pasti akan dilanjutkan dengan kalimat "kau akan pergi, tinggalkan kusendiri.." sesuai rangkaian syair dalam lagu berjudul "Saat Terakhir".


Namun tidak bagiku. Aku lebih senang membuatnya menjadi kalimat lengkap seperti ini: tak pernah terpikir olehku, tak sedikit pun kubayangkan, aku yang akhirnya harus menyakiti dan melukainya.


Malam ini aku hanya bisa termenung di ujung telepon ketika dia menuturkan betapa dia tersakiti oleh tingkahku. Padahal bagiku, dia termasuk top ten dalam list orang yang paling ingin kujaga perasaannya agar tak sampai terluka.


"Malam itu mau tidak mau aku akhirnya kecewa. Kusiapkan berpuluh film di laptop ku karena aku berniat bisa seru-seruan menontonnya bersamamu. Dan aku hanya bisa diam ketika kamu bilang bahwa kamu sudah nonton semua film itu..."


Seketika aku dan semua belas kasihku padanya runtuh ke bumi. Bodoh! Hanya itu makian yang bisa kutudingkan pada diriku. Selama ini, sejauh aku melangkah dalam menapaki jalan hidupku, aku selalu menjunjung tinggi ajaran orang tuaku untuk menghargai orang lain. Aku selalu berusaha seberhati-hati mungkin agar kata dan perilakuku tidak menyakiti mereka, tidak membuat mereka merasa direndahkan, tidak membuat mereka merasa tak diharagai atau bahkan membuat mereka merasa apa yang telah mereka lakukan untukku sia-sia belaka. Meski sebenarnya tanpa mereka pun aku sudah bisa memenuhinya sendiri, tak apa. Tapi jangan tunjukkan hal itu pada mereka.


Dan hari ini, sekalinya aku menyadari bahwa aku telah terpeleset jalan, justru dia yang harus menjadi korban dan menelan pil pahit. Ya Tuhan, kenapa harus dia?? Aku takkan pernah rela telah menyakitinya...


Jauh-jauh hari semenjak mengenalnya, aku seolah terlalu dini menyadari betapa halus perasaan orang ini. Dia takkan tega melihat orang lain menderita, pun dia sendiri sebenarnya mudah terluka oleh tingkah dan ucapan yang sekiranya tak berkenan di hatinya.


Maaf,..
Seribu kata maaf yang ingin kusampaikan padanya serasa tak cukup. Andai dia di sini, aku akan berlutut dan mencium tangannya meminta maaf.


"Gak papa,.. Sudahlah lupakan,.. Aku gak papa kok. Cuma kalo sekarang kita bahas soal film lagi, aku jadi ngerasa gak enak aja. Masih terasa kecewanya. Selebihnya aku gak papa.. Dan kita akan baik-baik saja."


Sampai nanti, aku gak akan pernah bisa menghapus rasa bersalahku padanya. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan karena kusadari waktu tak mungkin berputar balik. Aku hanya bisa merekam memori ini sedalam-dalamnya agar tak sampai terulang pada siapapun. Dan berusaha selalu melakukan yang terbaik untuknya. Tidak, itu takkan bisa menebus salahku. Setidaknya dengan menjadi orang yang lebih baik, aku menghargai air mata darinya yang telah tertumpah karenaku.



Maafkan aku, mas...