Tak sedikit pun kubayangkan...
Bagi fans ST 12, bait di atas pasti akan dilanjutkan dengan kalimat "kau akan pergi, tinggalkan kusendiri.." sesuai rangkaian syair dalam lagu berjudul "Saat Terakhir".
Namun tidak bagiku. Aku lebih senang membuatnya menjadi kalimat lengkap seperti ini: tak pernah terpikir olehku, tak sedikit pun kubayangkan, aku yang akhirnya harus menyakiti dan melukainya.
Malam ini aku hanya bisa termenung di ujung telepon ketika dia menuturkan betapa dia tersakiti oleh tingkahku. Padahal bagiku, dia termasuk top ten dalam list orang yang paling ingin kujaga perasaannya agar tak sampai terluka.
"Malam itu mau tidak mau aku akhirnya kecewa. Kusiapkan berpuluh film di laptop ku karena aku berniat bisa seru-seruan menontonnya bersamamu. Dan aku hanya bisa diam ketika kamu bilang bahwa kamu sudah nonton semua film itu..."
Seketika aku dan semua belas kasihku padanya runtuh ke bumi. Bodoh! Hanya itu makian yang bisa kutudingkan pada diriku. Selama ini, sejauh aku melangkah dalam menapaki jalan hidupku, aku selalu menjunjung tinggi ajaran orang tuaku untuk menghargai orang lain. Aku selalu berusaha seberhati-hati mungkin agar kata dan perilakuku tidak menyakiti mereka, tidak membuat mereka merasa direndahkan, tidak membuat mereka merasa tak diharagai atau bahkan membuat mereka merasa apa yang telah mereka lakukan untukku sia-sia belaka. Meski sebenarnya tanpa mereka pun aku sudah bisa memenuhinya sendiri, tak apa. Tapi jangan tunjukkan hal itu pada mereka.
Dan hari ini, sekalinya aku menyadari bahwa aku telah terpeleset jalan, justru dia yang harus menjadi korban dan menelan pil pahit. Ya Tuhan, kenapa harus dia?? Aku takkan pernah rela telah menyakitinya...
Jauh-jauh hari semenjak mengenalnya, aku seolah terlalu dini menyadari betapa halus perasaan orang ini. Dia takkan tega melihat orang lain menderita, pun dia sendiri sebenarnya mudah terluka oleh tingkah dan ucapan yang sekiranya tak berkenan di hatinya.
Maaf,..
Seribu kata maaf yang ingin kusampaikan padanya serasa tak cukup. Andai dia di sini, aku akan berlutut dan mencium tangannya meminta maaf.
"Gak papa,.. Sudahlah lupakan,.. Aku gak papa kok. Cuma kalo sekarang kita bahas soal film lagi, aku jadi ngerasa gak enak aja. Masih terasa kecewanya. Selebihnya aku gak papa.. Dan kita akan baik-baik saja."
Sampai nanti, aku gak akan pernah bisa menghapus rasa bersalahku padanya. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan karena kusadari waktu tak mungkin berputar balik. Aku hanya bisa merekam memori ini sedalam-dalamnya agar tak sampai terulang pada siapapun. Dan berusaha selalu melakukan yang terbaik untuknya. Tidak, itu takkan bisa menebus salahku. Setidaknya dengan menjadi orang yang lebih baik, aku menghargai air mata darinya yang telah tertumpah karenaku.
Maafkan aku, mas...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar