Senin, 21 Desember 2009

eNY

Lho, Mas? Ngapain di sini?” kusapa dia yang duduk menungguku di ruang tamu.
Aku kan pengen ketemu kamu. Gak boleh?” jawabnya diiringi senyum yang selalu penuh makna itu. Ya Tuhan, aku tak sanggup menghadapi orang ini. Aku gak siap, oke lah seenggaknya gak sekarang.

Aku berjalan mendekat dan dia mengulurkan tangan padaku. Masih, tangan itu pun masih sehangat dulu ketika kemudian kujabat. Sedetik aku tertunduk tak bisa berkata apapun di depannya.

Hentikan! Bukan saatnya bermimpi. Hadapi kenyataan, Li!!

Tersadar aku pun segera memposisikan diri sebagai tuan rumah yang baik. “Kok mas ke sini? Bukannya pengantin baru belom boleh jalan-jalan yah?” tanyaku seraya menahan perih yang diam-diam mulai mengiris sudut-sudut hatiku lagi. “Sudah kubilang kan kalo aku pengen ketemu kamu? Aku pengen ngenalin istriku ke kamu. Kamu sih kemaren gak dateng ke acaraku. Tega kamu, Dek.” Aku hanya tersenyum pahit mendengarnya mengucap kalimat itu tanpa beban. Sungguh, itu adalah senyum paling munafik yang pernah kuberikan pada orang lain. “Mas tunggu bentar yah, kuambilkan minum.” Segera aku bangkit berdiri dan berjalan membelakanginya menuju ruang tengah hanya untuk menyusut setitik bulir bening yang terus memaksa mengalir dari sudut mataku.

Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi ini.

Kuletakkan segelas es jeruk di hadapannya, itu minuman favoritnya. “Eh, Dek. Bentar yah? Itu istriku dateng.” Kuamati dia melangkah keluar menjemput seorang perempuan berkerudung panjang yang menggendong seorang bayi dan membawa mereka masuk. Bayi?? Bukannya mereka baru menikah minggu kemaren??

Tuhan, ini dia perempuan itu. Perempuan yang dinikahinya dan memupuskan jalanku untuk hidup bersamanya. Perempuan itu mendekat dan menyalamiku. “Eny. Kamu Lia kan?” Aku mengangguk dan membalas uluran tangannya. Biasa saja, siapa yang bilang perempuan ini begitu cantik dan anggun?? Lalu, apa alasan dia menikahi perempuan ini?
Oh tidak, tidak. Setan jahat, pergilah dari pikiranku. Jangan ajari aku untuk mencela orang lain begini!

Aku menikahi Eny karena bayi ini, Dek.” ucap laki-laki itu seolah mengerti pertanyaan dalam hatiku tentang bayi yang digendong istrinya.

Owh, karena bayi itu alasannya. Tapi tunggu dulu.. Apa ??!! Karena bayi itu ??!! Apa maksudnya ?? Oh Tuhan, tidak. Jangan bilang bahwa bayi itu anak mereka.

Tidakk!!
Aku berteriak histeris dan menutup telingaku dengan kedua tanganku.

Dan,..
Hosh, hosh, hosh!!!
Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal. “Astaghfirullah hal adziim,” aku mengucap istighfar seraya meneguk sedikit air putih dari gelas di meja kerjaku. Sekilas kulihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ya Tuhan, rupanya aku mimpi. Mungkin tadi aku terlalu capek dan akhirnya tertidur di sini.

Kututup window di monitorku yang masih menampilkan profil laki-laki dalam mimpiku tadi pada sebuah jejaring sosial. Terpampang di profil itu foto pernikahannya yang baru saja di upload 5 jam yang lalu.

Aku menghela nafas panjang dan bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan Qiyamul Lail. Dalam dzikir aku berusaha menenangkan hatiku yang masih amburadul gara-gara mimpi aneh barusan. Tak lama berselang, aku pun larut dalam do’a, pasrah menyungkur di sajadahku yang basah.

Aku tau pasti bahwa mimpi tadi hanyalah mimpi, kenyataannya tidaklah demikian. Dia, orang yang selalu kupuja, orang yang begitu sempurna di mataku, memang telah menikah dengan perempuan bernama Eny itu seminggu yang lalu. Tapi sesungguhnya mereka menikah baik-baik, dan pernikahan suci itu telah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Mungkin aku yang belum ikhlas sampai-sampai aku memimpikan hal yang tidak-tidak seperti itu.

Tuhan, ikhlaskan hatiku menerima dan menjalani takdir-Mu ini. Aku mencintainya karena-Mu. Aku bertemu dengannya juga atas izin-Mu. Dan jika sekarang Engkau pisahkan aku darinya, pasti ini jalan yang terbaik untukku dan dirinya. Aku yakin Engkau pun telah mempersiapkan pengganti yang lebih baik untukku.

Kututup do’aku malam itu dengan bersujud sekali lagi.

1 komentar:

  1. Asam manis kehidupan,.. Is it real story or just imagination.?

    BalasHapus