Kamis, 25 November 2010

Mohabbatein - Chalte Chalte



a memorable song,...
from a very nice movie

Selasa, 21 September 2010

Simfoni Hitam

Malam sunyi kumimpikanmu
kulukiskan kita bersama
namun selalu aku bertanya
adakah aku di hatimu?

di hatiku terukir namamu
cinta rindu beradu satu
namun selalu aku bertanya
adakah aku di hatimu?

tlah kunyanyikan, alunan-alunan senduku
tlah kubisikkan, cerita-cerita gelapku
tlah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

bila saja kau di sisiku
kan kuberi kau segalanya
namun tak henti aku bertanya
adakah aku di hatimu?

tlah kunyanyikan, alunan-alunan senduku
tlah kubisikkan, cerita-cerita gelapku
tlah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

tak bisakah kau sedikit saja dengar aku?
dengar simfoniku, simfoni hanya untukmu...

Sabtu, 29 Mei 2010

BEKAS PACAR

pasti tak pernah terbayangkan olehnya
kau pun bertanya-tanya
kata siapa, dari siapa, sampai kutau belangnya

tak usah kira kamu hebat
ternyata kamu bukan sahabat
tak usah kira aku marah
malah mau ku kasi selamat
ambillah saja
BEKAS pacarku

sebenarnya ku tau sejak lama
hanya ku berpura-pura
kamu siapa
dia siapa
teman dan pacar tak setia

tak usah kira kamu hebat
ternyata kamu bukan sahabat
tak usah kira aku marah
malah mau ku kasi selamat
ambillah saja
BEKAS pacarku...

Selasa, 11 Mei 2010

Bangku Taman



Siang itu aku iseng berjalan-jalan ke taman kota. Padatnya rutinitas kantor membuatku jenuh, sangat jenuh bahkan. Dan begitulah, aku berjalan tanpa arah menyusuri taman kota yang rupanya masih memiliki sisa-sisa kehijauannya. Sejenak aku duduk di bangku kayu di bawah pohon perindang. Hhuuffttthh… Lega rasanya bisa melepaskan nafas bebas di sini, walau hanya sejenak.

Dan tatap mataku menangkap sosok mereka berdua, sepasang suami istri kiranya. Perlahan sang suami menuntun istrinya berjalan ke bangku tempatku duduk. “Permisi, Mbak?” Ucap sang suami ramah. Sungguh bukan keramahan yang dibuat-buat. Sebelum sempat menjawab, sekilas aku menangkap kerutan di dahi sang istri. “Ada siapa, Pak?” Begitulah dia terdengar bertanya. Dan sang suami pun menjelaskan dengan lembut bahwa sudah ada aku yang lebih dulu duduk di situ. Ibu itu lantas tersenyum ramah ke arahku. “Permisi, Mbak. Kami harap kami tidak mengganggu di sini.” Aku balas tersenyum sambil menggeleng pertanda bahwa keberadaan mereka sama sekali tidak menggangu.

Lagi-lagi aku mengamati mereka berdua dengan sembunyi-sembunyi. Ibu itu terlihat masih cantik di usianya yang sekarang. Pasti dia sangat cantik ketika masih muda dulu. Sedangkan sang Bapak terlihat begitu kharismatik dengan penampilannya yang sederhana. Pasti dia bukan orang sembarangan, pasti mereka dari kalangan berpendidikan. Sepintas aku teringat pada seorang teman lama yang memiliki bentuk garis wajah mirip Bapak di sebelahku. Aku tersenyum sekilas mengingat teman lamaku itu. Terbersit rasa rindu padanya dan pada istrinya. Barangkali mereka sudah memiliki anak-anak yang lucu sekarang.

“Kenapa, Mbak? Kami lucu ya siang-siang begini jalan-jalan berduaan ke taman?” Tegur sang Bapak yang menyadari bahwa sudah sejak tadi aku senyum-senyum saat memandangi mereka berdua. “Tuh kan, Pak. Ibu bilang juga apa, nanti sore saja kita jalan-jalan ke taman. Kalau siang-siang begini bakal dibilang aneh sama orang-orang. Itu Mbaknya aja senyum-senyum liat kita berdua. Ibu kan jadi malu, Pak.” Ujar istrinya menimpali.

“Ibu, Bapak. Maafkan saya. Sungguh saya tidak bermaksud menertawakan Ibu Bapak. Tidak ada yang salah dengan acara jalan-jalan ke taman pada siang hari seperti ini, siapa saja berhak mencari udara segar di sini kapan pun.” Ucapku sungguh-sungguh, untuk kemudian segera kulanjutkan. “Sesungguhnya saya sedang teringat pada teman lama saya dan istrinya begitu melihat Bapak dan Ibu. Kebetulan wajahnya teman saya itu begitu mirip dengan Bapak, jadi saya tiba-tiba merasa kangen sama mereka.”

“Oh ya, jadi begitu rupanya.” Jawab mereka sambil balas tersenyum kepadaku.

Dan begitulah, tanpa disadari mengalirlah obrolan antara aku dan mereka. Bahkan saking asyiknya, kami pun memutuskan untuk makan siang bersama. Malu-malu aku menerima tawaran Bapak agar kali ini beliau saja yang membayar makan siang kami bertiga.

-------

Subhanallah… Hanya itu yang terucap di bibirku ketika menutup do’a setelah shalat ashar di kantor. Sejenak aku terpekur memikirkan pertemuan singkatku dengan Bapak Priyo dan Ibu Dian di taman tadi siang.

Setelah berbincang beberapa lama, Bapak dan Ibu bercerita tentang pengalaman mereka melawan penyakit yang diderita Ibu. Itulah mengapa wajah Ibu terlihat sedikit lebih pucat dari manusia sehat pada umumnya. Itulah pula sebabnya mengapa Ibu selalu dituntun oleh Bapak ketika sedang berjalan di taman. Rupanya Ibu sudah kehilangan 95% penglihatannya akibat penyakit yang dideritanya.

“Dulu saya kira saya hanya perlu menjalani operasi karena penyakit Lupus ini, Nak.” Kata Ibu mengenang masa lalunya. “Saya sungguh tidak mengira bahwa terapinya justru menyebabkan saya kehilangan penglihatan seperti sekarang. Dan itu membuat saya selalu merepotkan Bapak.”

Bapak hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Ibu. Sama sekali tidak tertangkap olehku gurat penyesalan dalam senyum tulus Bapak itu. “Sudah kewajiban Bapak buat selalu mendampingi Ibu. Bukan begitu, Nak?” Tanya retoris Bapak sambil terkekeh.

“Ya begitulah baiknya Bapak, Nak. Bahkan setelah saya nyata-nyata tidak akan bisa memberikan beliau keturunan akibat kanker yang saya derita, beliau tetap bersiteguh mendampingi saya.” Kembali Ibu mengenang masa lalunya, kali ini sambil menyeka sedikit titik air di matanya.

Sesungguhnya aku terkejut mendengar penuturan Ibu yang terakhir. Aku benar-benar tidak menduga bahwa selain penyakit Lupus dan kehilangan penglihatan, Ibu juga masih harus menghadapi derita melawan kanker yang menggerogotinya perlahan-lahan. Namun kusembunyikan keterkejutanku itu dengan berpaling kepada Bapak, meminta lanjutan cerita dari versi beliau.

“Waktu itu, Ibu bahkan sempat menawarkan kepada Bapak untuk menikah lagi. Meskipun secara tidak langsung, Nak. Namun menurut Bapak, Bapak tidak perlu melakukan itu. Istri Bapak adalah Ibu, dan sampai kapan pun Bapak akan selalu mendampingi Ibu.” Ucap Bapak mantap, lagi-lagi dengan senyum kharismatik yang sungguh tulus itu.

“Bapak sudah lebih dari cukup mendapatkan Ibu, Nak.” Kata Bapak melanjutkan ceritanya. “Bagi kami, penyakit Ibu ini bukan lagi dipandang sebagai musibah. Justru anugrah kalau kami bilang.” Sejenak aku mengeriyitkan dahi mendengar kata “anugrah” terucap dari laki-laki setengah baya itu. Bagaimana mungkin?? Dan untuk kesekian kalinya kembali dia tersenyum, berusaha meyakinkan aku bahwa ucapannya tadi tidak main-main.

“Dulu, Ibu dan Bapak hidup hanya memikirkan dunia. Kami sama-sama mengejar karir dan memperjuangkan sesuatu yang kami sebut sebagai masa depan. Namun setelah Ibu sakit serta harus menjalani berbagai pengobatan dan berbagai operasi yang menakutkan, kami mulai sadar bahwa orientasi hidup kami selama ini salah. Kami tidak pernah memikirkan untuk apa kami hidup di dunia. Kami juga tidak pernah memikirkan mau jadi apa kami nanti setelah kehidupan di dunia ini berakhir.”

Aku mengangguk-angguk pertanda mulai memahami kemana arah pembicaraan Bapak.

“Jadi sekarang kamu paham kan mengapa Bapak tidak mau meninggalkan Ibu? Ibu lah yang telah menyelamatkan hidup kami dari kemilau dunia. Ibu dan ketegarannya menghadapi ujian yang bertubi-tubi menimpanya. Orang boleh bilang bahwa istri Bapak ini adalah wanita yang tidak sempurna lagi. Namun Bapak tidak peduli, yang penting Bapak bahagia mendampingi Ibu.” Ungkap Bapak mengakhiri penjelasan panjang lebarnya.

Kali ini giliranku tersenyum kepada mereka. Entah mengapa aku seolah merasakan aura bahagia yang terpancar dari Bapak dan Ibu di hadapanku ini. Perlahan kugenggam lembut jemari-jemari Ibu untuk mendapatkan penguatan di sana. Penguatan dari perempuan tegar yang entah sudah berapa kali berjibaku melawan maut. Perempuan tegar yang mampu membuat suaminya tetap mencintainya, walau sang istri berada dalam keterbatasan dan ketidaksempurnaan.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku dengan mereka hamba-hambaMu yang hebat. Terima kasih Bapak Priyo dan Ibu Dian, Anda berdua telah mengajari aku bagaimana seharusnya bersyukur sebagai hamba Tuhan yang selalu dilimpahi karuniaNya.



Tak ada pasangan yang tercipta dengan sempurna. Yang adalah bagaimana mencintai pasangan kita tersebut dengan sempurna.

Selasa, 04 Mei 2010

Seseorang dalam Simpatiku




Kau rasta di dada
sejak pertama ku masuk dalam neraka ini
kau getarkan dindingnya
hingga terasa tak ada batasan inspirasi

Kau gemuruh di langit badai
sejah kilat membunuhku di hadapanmu
kau belah langit sendiri
membuatku berlutut memohon tatapanmu

Kau gelombang di samudera
sejak butiran pasir mengkristal di pantai
kau tenggelamkan aku serta merta
waktu kau hunus padaku tsunami
dan menelantarkanku,
tanpa kehadiranmu



Rabu, 14 April 2010

Cukup Aku Saja

Suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yang terus ada.
Ini adalah kisah nyata di kehidupanku. Seorang suami yang kucintai yang kini telah tiada. Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku. Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku.
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup. Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah, tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah. Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku, tak mengerti aku, dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Tapi kini aku tahu. Semua ucapanku selama ini salah, dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya, bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya. Dia berkata, “Setiap kali kami ajak dia makan siang, Mas Anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya selalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “Aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang. Lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun, aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga, tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat. Teringat akan amarahku pada suamiku, aku selalu mengatakan dia selalu menyibukkan diri pada pekerjaan, dia tak pernah peduli pada anak kami. Namun itu semua salah.
Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen-dokumen pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV. Anwar Sejahtera dibangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV. Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa, kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.” Membaca itu, benar-benar baru kusadari betapa suamiku menyayangi putraku. Betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kami.
Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “Ibu capai? Istirahat dulu saja.” Dengan kasar kukatakan, “Ya jelas aku capai, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak. Ayah tahunya ya pulang, datang, bersih. Titik.”
Sungguh, bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat dibanding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.
Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya, tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku. “Pak kenapa cari klinik yang termurah? Saya rasa bapak bisa berobat di tempat yang lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula.” Dan suamiku menjawab, “Tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja berobat di sini. Aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
Tuhan..
Maafkan hamba Tuhan, hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.
Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa. Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari. Banggalah pada suamimu, karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya. Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana. Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu. Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar. Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.
Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang. Terlambat sudah kata ini ku ucapkan. Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu. Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu. Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu. Aku bangga padamu, aku sayang padamu.
Istrimu Rina.
Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara, teman, kerabat anda. Saya berharap pengalaman yang saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Selasa, 06 April 2010

Sebait Pesan (Solah Bowo)

Jamake manungso
salumrahe janmo
ayo podho sayuk, guyub, rukun mbangun negarane

Tumraping negoro
lan kito sadoyo
sing podho waspodo
ojo lirwo marang Pancasila

Kanthi tekad sidji
murihing lestari
y'eku eko prasetyo ponco karso



Kaping sidji manembah mring Gusti
Kamanungsan ugo wigati
Persatuan lan musyawarah
Keadilan kang mungkasi



Jumat, 12 Maret 2010

Segi Persegi

19 Agustus
* Shinta: Loe tau Pras? Semua yg loe omongin ke gue tuh bullshits! Cukup, gue gak bisa jalan sama loe lagi. Muna loe!!
* Winda: Lho mbak, kok tiba-tiba bubar sama mas Pras? Kenapa mbak?
* Pras: Ya gitu Win, aku gak tau kenapa tiba-tiba mbak mu bersikap gitu...
---
12 Desember
Kreeeekkkk...! Pintu geser itu terbuka lebar dan sesosok perempuan mungil masuk sambil bertelepon ria dengan hp nya. Sekilas dia melempar senyum padaku yg sedang menonton tv di ruang depan. Iseng aku bertanya dalam hati, tumben jam segini miss ring-ring ini bertelepon ria? Biasane kan pagi-pagi.. Ah, apa peduliku?
Sejam kemudian...
"Mbak, dapat salam dari mas Pras." ucapnya polos. Pras?? Ternyata Pras yg menelepon. Mau apa lagi dia?! Mendengar namanya disebut saja aku sudah males banget. Dan aku cuma membalas pemberitahuan itu dengan senyum tanpa makna. Males.
-----
6 Januari
"Mbak Nora, Winda kemana ya? Kok kamarnya tutupan?"
"Keluar dari tadi sore, katanya sih sama temennya. Rapi kok."
Hah? Sejak kapan dia keluar sama temen-temennya pas malem minggu? Gak biasane...
-----
7 Januari di tempat cucian..
"Duh mbak Shin, gak kurang banyak tuh nyucinya? Baju selemari kok dicuci semua?"
Aku menoleh pada asal suara, kemudian melemparkan sekilas senyum padanya.
"Waduh, tau gak sih aku tadi malem maen kucing-kucingan? Pas aku di butik nyari sepatu, lhah ternyata ada temen kampusku juga nyari sepatu. Kontan deh aku ngumpet-ngumpet gak jelas gitu."
"Lha kenapa musti ngumpet? Kok gak disapa aja temennya itu?" tanya ku polos tanpa mengalihkan pandangan dari cucian di depanku.
"Ya gak mungkin lah, bisa geger besok di fakultas kalo aku ketauan jalan sama cowok. Aku kan semalem jalan sama mas Pras.."
What??!! Ekspresi normalku seharusnya adalah kaget setengah mati sambil menoleh tanda tak percaya kepadanya. Tapi aku tidak bersikap normal. Maka yang terjadi adalah aku meneruskan pekerjaanku dan hanya bertanya lagi dengan sambil lalu, "Lha emang kenapa kalo jalan sama Pras? Kan gak masalah biarpun ketemu mereka?"
"What??!! Enggak deh mbak, makasih.."
"Hahaha... Ada-ada aja." kukeluarkan komentar itu sedatar mungkin.
-----
9 Januari jam 9 malam...
Aku berniat menelepon Pras,..
Tuuuttt,... Third party calling... Your number called is busy, please try again latter.
Dengan iseng kucoba menekan nomor hp Winda,..
Tuuuttt,... Third party calling... Your number called is busy, please try again latter.
What??
Ah, mungkin hanya kebetulan...
-----
10 Januari jam 10 malam
Aku benar-benar merasa haus. Kupaksakan kakiku melangkah ke tempat air mineral di depan kamar Winda. Sumpah aku tak berniat menguping, tapi aku sungguh mendengar di dalam kamarnya Winda sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Pras.
Cukup! Hentikan segala ketidakbergunaan ini. Aku tidak mau tau lagi..
-----
7 Februari pagi...
"Shin, jogging yuk!" Rey berteriak dari kamarnya.
"Kesiangan, Rey. Udah jam 6 lewat nih..."
"Udah, cuek aja. Orang-orang juga baru berangkat kok. Yuk!"
Kuikuti langkah kaki Rey menuruni tangga menuju halaman depan. Tanpa prasangka kudorong pintu gerbang depan dan langsung membelok ke kiri menuju lapangan jogging. Baru dua meter aku meninggalkan pintu gerbang, samar-samar aku mendengar suara Winda memanggil namaku dari arah belakang.
Sepersekian detik kemudian aku menoleh ke arah Winda, mengetahui dengan pasti bahwa dia sedang ada di sudut jalan bersama Pras, kembali membalik badan sambil melambai ke arah Winda untuk menjawab panggilannya tadi, sekaligus bersandiwara seolah aku tak melihat keberadaan Pras. Dan aku segera meneruskan langkahku ke tempat jogging.
Mereka masih tetap berhubungan....
-----
Jam 3 sore,..
Ddrrrt ddrrrttt. Hp ku bergetar pelan. Pras calling..
"Halo, Pras?"
"Hei, Shin. Apa kabar? Lagi sibuk banget ya kayaknya?"
"Baik. Sibuk apa maksudnya nih? Prasaan aku biasa aja.."
"Ya gitu deh. Seperti yg terlihat tadi pagi, bahkan untuk ngobrol sama aku aja kamu gak ada waktu."
"Jangan berlebihan deh Pras. Kamu kan ke kos ku bukan untuk ketemu aku. Aku gak mau mengganggu, aku tau diri kok."
"Kok gitu sih kamu ngomongnya, Shin. Tau gak kalo itu bikin Winda serba salah?!"
"Winda?? Apa urusanku sama Winda?"
"Sikapmu itu yg bikin Winda gak enak hati."
"Owh,.. Jadi gitu. Jadi kamu nelpon cuma buat mengatakan itu. Oke, aku tegaskan di sini Pras. Aku gak ada masalah sama Winda. Terserah kalian mau percaya atau tidak, itu urusan kalian."
"Syukurlah kalo begitu. Thanks ya Shin.."
"Sama-sama."
Kututup telepon itu dengan geram. Apa maksudnya Winda mengadu seperti itu sama Pras??
-----
12 Maret..
Sudah lama aku tidak membuka akun ku di berbagai jejaring sosial yg kuikuti. Hari ini tak ada salahnya aku menengok sedikit perkembangan di dunia maya itu. LOGIN. OK.
Kubaca satu-satu berita di halaman depan hasil posting dari rekan-rekanku. Dan mataku menangkap notifikasi di belakang akun Pras. "Pras is now friend with Nisa"
Nisa sohibnya Winda.
Dan aku berhenti sampai di situ. Berpikir apa yg sebenarnya kupikirkan tentang semua ini.
Ini adalah sebuah bangun berbentuk persegi dengan empat sisi yg sudah paten kukuh terbentuk. Kemanapun aku melangkah, aku lagi-lagi akan terbentur pada salah satu dari keempat sisi persegi itu...
Dan demikianlah semua akan berakhir begitu saja,...

Senin, 22 Februari 2010

untukmu, one's



Malam cerah, kuhitung
selaksa kunang-kunang angkasa
sirna?
Siang terik, kupandang
seribu orang lalu lalang
hilang?
Senja merah, kujelang
memoles kabut membias mega, bicara
meronakan dirimu
di mataku
menyisipkan bayangmu
di setiap langkahku
menitipkan semangatmu
dalam setiap hela nafasku
Hari ini, kemarin, sejak saat itu
Sayang

Jumat, 22 Januari 2010

Kecewa



Sedikit waktu yang kau miliki
luangkanlah
untuk ku harap secepatnya datangi aku
skali ini kumohon padamu
ada yang ingin kusampaikan,
sempatkanlah


hampa kesal dan amarah
sluruhnya ada di benakku


* andai seketika
hati yang tak terbalas
oleh cintamu

kuingin marah melampiaskan
tapi kuhanyalah sendiri di sini
ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
bahwa hatiku kecewa...


sedetik menunggumu di sini seperti seharian
berkali kulihat jam di tangan
demi membunuh waktu
tak kulihat tanda kehadiranmu
yang semakin meyakiniku
kau tak datang


* andai seketika
hati yang tak terbalas
oleh cintamu

kuingin marah melampiaskan
tapi kuhanyalah sendiri di sini
ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
bahwa hatiku kecewa...

Minggu, 10 Januari 2010

Mon Ci






Emang bener sih tadi pagi aku gak membuka mata sembari tersenyum lebar, tapi setidaknya aku masih memiliki sisa senyum kemaren malam saat aku kembali terhubung dengan salah satu temen lamaku jaman seragam putih-merah.

Yups! Kudapatkan juga emailnya sebagai modal awal buat sewaktu-waktu kalau aku pingin chatting sama dia (Akhirnya nih, setelah mencari sekian lama. Mungkin hampir tujuh taun. Keren gak tuh?)..

Hari ini kurasakan terlewati dengan cepat.
Baiklah, saatnya bercengkrama dengan mouse dan keyboard di sore yang mendung.

Bip, bip..
"Hai!" teman SD ku muncul di IM ku.
"Hey, Bro. Lagi ngapain sore-sore begini?"
"Mau nganter temen ke salon nih, rambutnya udah gondrong. Ntar keburu mirip mak lampir deh kalo gak segera dirapiin." ucapnya panjang lebar.
"Heh, mak lampir itu cewek. Kalo temenmu itu mah pak lampir namanya. Hahaha!" kutampilkan emoticons terbahak-bahak di akhir ketikanku.
"Sialan. Sejak kapan kamu pinter ngelawak? Prasaan kamu dulu pas SD jaim deh.."
"Mungkin aku dulu emang gak mengenal kamu dengan baik."
Hmmm?? Kalimat terakhirnya ini hanya kutanggapi dengan kerutan di dahi.

"Btw, kamu termasuk orang yang percaya cinta monyet gak?"
Pertanyaan itu terpampang di monitorku sekian detik kemudian.
"Percaya, banget." Jawabku asal.
"Kamu tau gak kalo kamu dulu cimonku pas kita masih SD?"
Apa?!?! Hahaha.. Aku tertawa sendiri di depan monitorku saat membaca tulisan itu muncul.
"Masa' sih??" sengaja kulempar pertanyaan yang sebenernya gak perlu ditanyakan.
"Ya gitu deh."
Sekali lagi aku tersenyum membaca reply dari seberang.

"Trus kalo kamu, siapa cimon nya pas SD?"
Nah loe, mati deh. Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga.
Jujur gak ya??
Baiklah, jujur aja. Tenang deh, toh gak bakal ngaruh ke apapun bukan?
"Kamu." Huufftthh, akhirnya berhasil jujur.
Dan sederet kalimat panjang itu me-reply jawabanku.
"Hehe.. Sebenernya cimonku dulu gak bertepuk sebelah tangan ya? Waah, rupanya aku aja yang gak nyadar nih.. Oke deh.. Bye bye!"

Dan icon IM nya langsung berubah warna jadi abu-abu,. Melarikan diri? Sungguh terlalu!!

Sepeninggalnya, aku masih terpaku di depan monitor. Kubaca berulang-ulang percakapanku dengannya barusan, memastikan bahwa aku tidak salah baca. Apa benar seperti itu??

Ingatanku menerawang ke masa lalu, sekitar sebelas hingga dua belas tahun silam.

Aku yang entah dari mana tiba-tiba dianugerahi gelar Sang Juara di sekolah, memiliki seorang sahabat, dia. Sekian tahun berselang, rasa memiliki sebagai sahabat itu akhirnya bermetamorfosis menjadi cinta, cinta monyet lebih tepatnya.

Selama ini aku tak pernah mencari tau bagaimana sesungguhnya perasaannya padaku. Mungkin pola pikir polos anak SD belum menuntut untuk melakukan hal itu. Yang paling penting saat itu, aku butuh dia, dan dia selalu ada. Merasa disayangi olehnya lebih dari teman-teman lain sudah lebih dari cukup.

Sampai akhirnya kami pun terpisah sekolah gara-gara gelar Sang Juara itu. Jauh, sangat jauh. Baru ketika menginjak bangku SMA, aku bertemu lagi dengannya di sebuah upacara kenegaraan. 17 Agustus maksudnya..

Dan pertemuan sekian menit itu kembali menyadarkanku bahwa hingga hari itu ternyata aku masih memegang teguh ekor sang monyet.

Aku tak pernah bertemu lagi dengannya hingga hari ini. Aku pun lupa untuk mencari tau apa arti diriku baginya dulu. Begitulah, dalam setiap komunikasi antara kami, tak pernah sedikitpun hal itu disinggung. Buat apa??

Satu hal yang sengaja kupungkiri, hingga hari ini aku masih memeluk ekor sang monyet kuat-kuat kemanapun aku pergi. Dan usahaku untuk membunuh monyet itu tak pernah berhasil. Rupanya dia bukan monyet sembarangan.


Hhheeehhhh,...
Akhirnya aku hanya bisa menghela nafas sendiri dan memutuskan mematikan monitorku. Biarlah, yang terjadi terjadilah. Setidaknya sekarang aku tau bahwa aku dulu pernah ada di hatinya. Sepertinya untuk sementara hal itu cukup. Sedangkan untuk sisanya, serahkan saja pada nasib. Hmmm, bukan. Serahkan saja pada suratan takdir dari Yang Maha Kuasa...


Dan tiba-tiba senyumku terasa ringan. Aku ingin tersenyum, tersenyum dan tersenyum lagi. Buat apa?? Entahlah....