Siang itu aku iseng berjalan-jalan ke taman kota. Padatnya rutinitas kantor membuatku jenuh, sangat jenuh bahkan. Dan begitulah, aku berjalan tanpa arah menyusuri taman kota yang rupanya masih memiliki sisa-sisa kehijauannya. Sejenak aku duduk di bangku kayu di bawah pohon perindang. Hhuuffttthh… Lega rasanya bisa melepaskan nafas bebas di sini, walau hanya sejenak.
Dan tatap mataku menangkap sosok mereka berdua, sepasang suami istri kiranya. Perlahan sang suami menuntun istrinya berjalan ke bangku tempatku duduk. “Permisi, Mbak?” Ucap sang suami ramah. Sungguh bukan keramahan yang dibuat-buat. Sebelum sempat menjawab, sekilas aku menangkap kerutan di dahi sang istri. “Ada siapa, Pak?” Begitulah dia terdengar bertanya. Dan sang suami pun menjelaskan dengan lembut bahwa sudah ada aku yang lebih dulu duduk di situ. Ibu itu lantas tersenyum ramah ke arahku. “Permisi, Mbak. Kami harap kami tidak mengganggu di sini.” Aku balas tersenyum sambil menggeleng pertanda bahwa keberadaan mereka sama sekali tidak menggangu.
Lagi-lagi aku mengamati mereka berdua dengan sembunyi-sembunyi. Ibu itu terlihat masih cantik di usianya yang sekarang. Pasti dia sangat cantik ketika masih muda dulu. Sedangkan sang Bapak terlihat begitu kharismatik dengan penampilannya yang sederhana. Pasti dia bukan orang sembarangan, pasti mereka dari kalangan berpendidikan. Sepintas aku teringat pada seorang teman lama yang memiliki bentuk garis wajah mirip Bapak di sebelahku. Aku tersenyum sekilas mengingat teman lamaku itu. Terbersit rasa rindu padanya dan pada istrinya. Barangkali mereka sudah memiliki anak-anak yang lucu sekarang.
“Kenapa, Mbak? Kami lucu ya siang-siang begini jalan-jalan berduaan ke taman?” Tegur sang Bapak yang menyadari bahwa sudah sejak tadi aku senyum-senyum saat memandangi mereka berdua. “Tuh kan, Pak. Ibu bilang juga apa, nanti sore saja kita jalan-jalan ke taman. Kalau siang-siang begini bakal dibilang aneh sama orang-orang. Itu Mbaknya aja senyum-senyum liat kita berdua. Ibu kan jadi malu, Pak.” Ujar istrinya menimpali.
“Ibu, Bapak. Maafkan saya. Sungguh saya tidak bermaksud menertawakan Ibu Bapak. Tidak ada yang salah dengan acara jalan-jalan ke taman pada siang hari seperti ini, siapa saja berhak mencari udara segar di sini kapan pun.” Ucapku sungguh-sungguh, untuk kemudian segera kulanjutkan. “Sesungguhnya saya sedang teringat pada teman lama saya dan istrinya begitu melihat Bapak dan Ibu. Kebetulan wajahnya teman saya itu begitu mirip dengan Bapak, jadi saya tiba-tiba merasa kangen sama mereka.”
“Oh ya, jadi begitu rupanya.” Jawab mereka sambil balas tersenyum kepadaku.
Dan begitulah, tanpa disadari mengalirlah obrolan antara aku dan mereka. Bahkan saking asyiknya, kami pun memutuskan untuk makan siang bersama. Malu-malu aku menerima tawaran Bapak agar kali ini beliau saja yang membayar makan siang kami bertiga.
-------
Subhanallah… Hanya itu yang terucap di bibirku ketika menutup do’a setelah shalat ashar di kantor. Sejenak aku terpekur memikirkan pertemuan singkatku dengan Bapak Priyo dan Ibu Dian di taman tadi siang.
Setelah berbincang beberapa lama, Bapak dan Ibu bercerita tentang pengalaman mereka melawan penyakit yang diderita Ibu. Itulah mengapa wajah Ibu terlihat sedikit lebih pucat dari manusia sehat pada umumnya. Itulah pula sebabnya mengapa Ibu selalu dituntun oleh Bapak ketika sedang berjalan di taman. Rupanya Ibu sudah kehilangan 95% penglihatannya akibat penyakit yang dideritanya.
“Dulu saya kira saya hanya perlu menjalani operasi karena penyakit Lupus ini, Nak.” Kata Ibu mengenang masa lalunya. “Saya sungguh tidak mengira bahwa terapinya justru menyebabkan saya kehilangan penglihatan seperti sekarang. Dan itu membuat saya selalu merepotkan Bapak.”
Bapak hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Ibu. Sama sekali tidak tertangkap olehku gurat penyesalan dalam senyum tulus Bapak itu. “Sudah kewajiban Bapak buat selalu mendampingi Ibu. Bukan begitu, Nak?” Tanya retoris Bapak sambil terkekeh.
“Ya begitulah baiknya Bapak, Nak. Bahkan setelah saya nyata-nyata tidak akan bisa memberikan beliau keturunan akibat kanker yang saya derita, beliau tetap bersiteguh mendampingi saya.” Kembali Ibu mengenang masa lalunya, kali ini sambil menyeka sedikit titik air di matanya.
Sesungguhnya aku terkejut mendengar penuturan Ibu yang terakhir. Aku benar-benar tidak menduga bahwa selain penyakit Lupus dan kehilangan penglihatan, Ibu juga masih harus menghadapi derita melawan kanker yang menggerogotinya perlahan-lahan. Namun kusembunyikan keterkejutanku itu dengan berpaling kepada Bapak, meminta lanjutan cerita dari versi beliau.
“Waktu itu, Ibu bahkan sempat menawarkan kepada Bapak untuk menikah lagi. Meskipun secara tidak langsung, Nak. Namun menurut Bapak, Bapak tidak perlu melakukan itu. Istri Bapak adalah Ibu, dan sampai kapan pun Bapak akan selalu mendampingi Ibu.” Ucap Bapak mantap, lagi-lagi dengan senyum kharismatik yang sungguh tulus itu.
“Bapak sudah lebih dari cukup mendapatkan Ibu, Nak.” Kata Bapak melanjutkan ceritanya. “Bagi kami, penyakit Ibu ini bukan lagi dipandang sebagai musibah. Justru anugrah kalau kami bilang.” Sejenak aku mengeriyitkan dahi mendengar kata “anugrah” terucap dari laki-laki setengah baya itu. Bagaimana mungkin?? Dan untuk kesekian kalinya kembali dia tersenyum, berusaha meyakinkan aku bahwa ucapannya tadi tidak main-main.
“Dulu, Ibu dan Bapak hidup hanya memikirkan dunia. Kami sama-sama mengejar karir dan memperjuangkan sesuatu yang kami sebut sebagai masa depan. Namun setelah Ibu sakit serta harus menjalani berbagai pengobatan dan berbagai operasi yang menakutkan, kami mulai sadar bahwa orientasi hidup kami selama ini salah. Kami tidak pernah memikirkan untuk apa kami hidup di dunia. Kami juga tidak pernah memikirkan mau jadi apa kami nanti setelah kehidupan di dunia ini berakhir.”
Aku mengangguk-angguk pertanda mulai memahami kemana arah pembicaraan Bapak.
“Jadi sekarang kamu paham kan mengapa Bapak tidak mau meninggalkan Ibu? Ibu lah yang telah menyelamatkan hidup kami dari kemilau dunia. Ibu dan ketegarannya menghadapi ujian yang bertubi-tubi menimpanya. Orang boleh bilang bahwa istri Bapak ini adalah wanita yang tidak sempurna lagi. Namun Bapak tidak peduli, yang penting Bapak bahagia mendampingi Ibu.” Ungkap Bapak mengakhiri penjelasan panjang lebarnya.
Kali ini giliranku tersenyum kepada mereka. Entah mengapa aku seolah merasakan aura bahagia yang terpancar dari Bapak dan Ibu di hadapanku ini. Perlahan kugenggam lembut jemari-jemari Ibu untuk mendapatkan penguatan di sana. Penguatan dari perempuan tegar yang entah sudah berapa kali berjibaku melawan maut. Perempuan tegar yang mampu membuat suaminya tetap mencintainya, walau sang istri berada dalam keterbatasan dan ketidaksempurnaan.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku dengan mereka hamba-hambaMu yang hebat. Terima kasih Bapak Priyo dan Ibu Dian, Anda berdua telah mengajari aku bagaimana seharusnya bersyukur sebagai hamba Tuhan yang selalu dilimpahi karuniaNya.
Tak ada pasangan yang tercipta dengan sempurna. Yang adalah bagaimana mencintai pasangan kita tersebut dengan sempurna.