Kamis, 20 Agustus 2009

Kamboja,..


Masih tak percaya aku sedang berdiri di tempat ini. Selama ini aku memang selalu ingin berkunjung ke kota ini, makanan khasnya yang merupakan hasil fermentasi itu sangat nyummy menyapa lidah.
Tapi gak sekarang, dan gak seperti ini caranya..


-----

"Yaudah, sampe ketemu yah? Besok pagi aku balik kok. Anakku jangan pulang dulu, tunggu Papa yah?"


Kututup telepon yang telah membangunkanku pagi ini. Benar-benar sahabat yang aneh. Aku sudah lupa kalau dia itu sahabatku. Dia begitu dewasa menyikapi hidup dan kehidupan. Itulah yang membuatku betah memanggilnya Papa, terlanjur. Dan memang benar, penilaianku terhadapnya itu diaminkan oleh teman-temanku.


-----


Gedung tua itu tampak sepi, catnya yang berwarna kuning gading sudah mulai kusam dimakan usia. Bener-bener kondisi yang tidak layak mengingat betapa besar biaya yang kuhabiskan setiap tahunnya untuk memperoleh sedikit tempat di salah satu ruangan di dalamnya bersama sekelompok teman-temanku yang lain. Ironisnya semua itu dilakukan dalam rangka memperebutkan selembar kertas berhiaskan foto terbaru dan bercap segilima berwarna ungu, logo suatu otoritas tertinggi di area dimana gedung tua bertingkat itu dibangun bersama teman-teman tuanya yang lain.


Hfffhh,.. Aku duduk melepas lelah di beranda gedung itu, sebut saja gedung A. Kubuka novel kedua yang sempat kubawa hari ini. Semoga lembaran halamannya tidak berakhir sebelum aku bertemu dengan dia, entah kapan. Harus hari ini pokoknya.


"Hey, Bu. Ngapain duduk ngelamun sendirian di situ? Mending ikut kita-kita aja ke rumah Bang Kod. Lumayan nih, jarang-jarang dia ngadain makan-makan pas ulang tahun. Ayok!"

"Duluan wes, masih ada urusan. Bilangin ke Bang Kod ntar aku nyusul."

Sambil melambai, serombongan teman-temanku di himpunan itu pun beranjak meninggalkan area parkir yang letaknya bersebelahan dengan gedung A.


Sepi. Kemana yah dia? Sejam yang lalu aku terakhir melihatnya masih berkutat di ruang workshop. "Tunggu, dek. Alatku belom kelar." Kurang lebih itu yang diisyaratkan dengan gerakan tangannya yang mulai tampak lebih kurus. Kasian, tuntutan menyelesaikan "last big job"-nya kali ini membuatnya seolah lupa mengurus diri.


Sudah 2 jam berlalu. Hampir jam 1 siang, anehnya aku belum merasa lapar.


-----


Papa sudah nyampe belom? Send.

New text message. Belom, Kak. Di sini sepi.

Belom nyampe?? Aku menghitung mundur. Harusnya dia sudah nyampe kalau perjalanan dari rumahnya ke sini hanya butuh waktu 5 jam. Apa mungkin dia mampir ke kontrakan dulu? Ya sudah. Paling-paling nanti sore dia baru ke sini.



Drrtt, drrtt... New text message.
Aku beli komponen dulu, baliknya agak lama. Kalo mau duluan silakan, dek.


Hayaaahhh, apa-apaan orang ini. Ditunggu dari tadi kok malah kabur? Sudah terlalu siang untuk pulang ke kos, pasti jalanan panas banget. Akhirnya kuputuskan untuk mampir ke "arena bermain" di belakang deretan gedung tua bertingkat itu. Tempat ini selalu asyik dijadikan arena melarikan diri bagi teman-temanku yang malas mendengarkan "orang berpidato" di gedung tua. Tapi gak semua penduduk "arena bermain" ini pemalas, ada juga yang memanfaatkan arena ini sebagai tempat mengembangkan hobi dan kreatifitas.



New text message, hampir jam 3 sore. Tumben temen kelasku ini sms? Haduwh, jangan-jangan ada kelas sore ini?!

Bu, kamu tau kabar soal Papamu gak? Aku denger dia kecelakaan tadi pagi, dan sekarang dia sudah "gak ada"...

Sender: Haris 3B.



-----


Dan di sini lah aku hari ini, berdiri mematung di hadapan makam yang masih merah.


Sms jam 3 sore itu membuyarkan segalanya. Antara percaya dan tidak, aku dan seorang temanku yang tersisa di sekretariat menghambur ke wartel untuk mencari tau kebenaran berita itu. Aku berusaha menelepon ke kontrakan Papa, berharap dia mengangkat telepon dan memastikan berita itu hanya sekedar keisengan yang tidak bertanggung jawab. Tak ada jawaban. Aku keluar. Di KBU sebelah, temanku itu mencoba menghubungi handphone Papa. Tampak dia bercakap-cakap dengan seseorang di seberang, agak lama. Aku cemas menantikan kabar darinya. Hingga semuanya terjawab saat temanku itu meletakkan gagang telepon dan keluar, matanya basah...



Terngiang kembali ucapan Papa pagi itu, "Anakku jangan pulang dulu, tunggu Papa yah?".


Seandainya hari itu aku pulang, aku takkan pernah bisa ke sini. Takkan bisa mengantar kepergiannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.



Selamat jalan, Papa. Dirimu dan kenanganmu takkan lekang oleh waktu...

Minggu, 09 Agustus 2009

Minimize...


Menjelang maghrib jalanan mulai ramai oleh anak-anak kos yang mencari berbagai keperluan untuk berbuka puasa. Sepintas aku menangkap bayangan tubuh mungilnya membaur diantara pembeli di sebuah warung makan. Tak lama berselang sosok yang amat kukenal itu beringsut membebaskan diri dari kerumunan, melangkah gontai menuju pintu gerbang sebuah rumah kos tempatnya bernaung dari panas matahari dan hujan selama 3 tahun terakhir.


Aku berani bertaruh bahwa kresek hitam yang dijinjingnya itu berisi 4 macam bungkusan: 1 bungkus nasi porsi penuh, 1 bungkus sayur bayam, 1 paket lauk berisi hati ayam digoreng dan tempe tepung, serta 1 bungkus es jeruk tanpa gula. Itu memang menu favoritnya kalau dia membeli makan di warung seberang jalan itu. Hmmmhh, mas kangen kamu dek...


Sekian detik sebelum mencapai pintu gerbang kulihat dia menghentikan langkah dan menoleh ke sudut jalan. Kosong, tatapan mata itu begitu kosong. Seberkas senyum pahit menghiasi wajah ayunya sebelum akhirnya dia menunduk dan melangkah masuk, menghilang dari pandanganku yang sesungguhnya sangat merindukannya.


Di sudut jalan itulah biasanya aku menjemputnya. Di sana pula aku berpisah dengannya setiap aku mengantarnya pulang. Dan di bangku kayu bercat biru muda itu aku ngobrol dengannya kalau kami sedang tidak punya rencana keluar. Bangku kayu yang sangat romantis sebagai tempat ngobrol di senja yang memerah.


Dan hari ini aku hanya bisa memandangnya dari jauh, dari tempatku bersembunyi. Betapa aku tak tega melihat wajah yang biasanya ceria itu kini menjadi sendu. Senyum manis dan kekanak-kanakan itu berubah menjadi senyum yang amat getir. Ingin aku berlari menghampirinya, mengatakan padanya bahwa semua baik-baik saja, bahwa aku tidak akan pergi kemana-kemana, bahwa aku akan selalu di sampingnya untuk memastikan dia selalu bahagia.


Namun aku tidak akan bisa melakukannya lagi, karena lusa aku akan menikah dengan perempuan lain pilihan ibuku. Maafkan aku, dek...

Kamis, 06 Agustus 2009

Lapar,..


Yoweslah, nduk. Kalo emang keputusanmu sudah bulat, ya sudah dijalani saja. Siapa tau ini emang jalan terbaik yang disiapkan Tuhan untukmu. Tapi aku pengen share sebuah pesan singkat dari Bapakku sebelum aku dulu berangkat ke kota ini. "Cuma ada satu hal yang perlu kau ingat sebelum menentukan pilihan dalam hidup, yaitu jangan pernah membuang tumpeng demi segenggam beras yang bahkan belum menjadi nasi."


Dan aku terdiam ketika ucapan seniorku itu terngiang lagi di telingaku. Aku merasakan betapa sekian detik ke belakang aku telah menyia-nyiakan tumpeng itu dengan sengaja membuangnya ke tempat sampah. Kini ketika aku lapar, digenggamanku cuma ada beras. Mentah... Bagaimana aku bertanggungjawab pada perutku? Segenggam beras itu ternyata masih sangat jauh untuk bisa berperan sebagai bahan pengenyang perutku. Dia masih perlu diolah, mulai dari dicuci bersih hingga menjalani proses menanak yang akan memakan waktu sekitar setengah jam. Fakta yang lebih menyakitkan, dia hanya segenggam beras, bukan sekilo...

Owh, Tuhan.. Aku lapar...

Dalam derita menahan lapar, aku masih sempat menganalisa penyebab semua ini menimpa diriku.

Berawal dari sejam yang lalu ketika seorang juru masak restoran mengantarkan sebuah tumpeng ukuran besar ke rumahku. Menurutnya, tumpeng lengkap dengan lauk pauk itu sengaja dipesan oleh orang tuaku sebelum mereka berangkat ke luar kota kemarin sore. Yeah, hari ini aku memang merayakan ulang tahun dalam kesendirian. Sebenernya aku senang mendapat tumpeng itu, setidaknya orang tuaku masih peduli pada kesejahteraan perutku di hari istimewa ini. Tapi,.. Aku kan tidak suka nasi kuning?? Aku selalu mual ketika mencium baunya.

Sejurus kemudian, terdengar bisikan dari dalam hatiku demi melihat ada segenggam beras di kotak beras. Aha!! Aku masih bisa makan nasi putih hari ini, aku lebih menyukai nasi putih. Dan aku tidak memerlukan tumpeng yang membuat perutku mual ini lagi.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak,.. Dan akhirnya sekarang aku tinggal menyesali diri. Tumpeng itu sudah dipersiapkan lengkap, namun kubuang demi bayang-bayang nasi putih yang kuharapkan akan lebih ramah menyapa perut laparku..

Jika seperti ini, siapakah yang lebih patut dikasihani? Tumpeng yang telah kucampakkan ke tempat sampah tanpa ampun, atau aku yang kelaparan dan menyesal?
Hehe,..
Selamat makan...

Senin, 03 Agustus 2009

Seberkas Kesetiaan yang Tersisa


Dulu aku sangat mengagumi dia. Dia dengan segala cerita dan pengabdian yang diberikan pada kekasihnya. Sempat kuabadikan cerita pilu nan mengharukan itu dalam sebuah tulisan. Kuikuti kisahnya, betapa dia jatuh bangun berjuang demi kesembuhan kekasihnya itu. Pulang kantor, dia masih menyempatkan meracik jamu. Kusaksikan sendiri telapak tangannya sampai berwarna kuning senada dengan warna kunyit dari jamu itu. Perlahan tapi pasti, kelelahan itu mulai nyata merengkuh langkah kakinya. Hebat! Gak tanggung-tanggung, 3 bulan penuh dia berhasil bertahan menjalaninya hingga dokter menyatakan penyakit itu telah hengkang dari tubuh sang pacar.

Dan cerita itu berhasil menghapus kenangan pahitku atas kisah kelam perselingkuhannya 10 bulan silam. Aku memaafkan sahabatku itu...

Hingga malam ini, sekali lagi aku seakan terhenyak dari mimpi. Pengakuan dari bibirnya atas kisah perselingkuhannya kali ini membuatku diam tanpa komentar. Seminggu yang lalu aku sempat mendengar kabar itu dari orang lain, namun mereka bilang ini baru kabar burung. Dan sekarang, aku mengetahui kebenaran berita itu langsung dari narasumbernya.

Haruskah aku menghakimi sahabatku itu? Haruskah aku memarahi dan memberikan ceramah panjang lebar kepadanya? Tidak sobat, tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Mungkin kalian berkata, "Harusnya kau tegur sahabatmu itu ketika kau tau bahwa jalan yang diambilnya salah". Tapi aku berpendapat lain. Dia bersalah jika dilihat dari sudut pandang kalian. Namun pernahkah kalian mencoba memandang dari sudut pandang dia?? Tau kah kalian alasan dia memilih jalan ini? Belum tentu kalian tau,.. Dan belum tentu kalian yang benar..