Minggu, 09 Agustus 2009

Minimize...


Menjelang maghrib jalanan mulai ramai oleh anak-anak kos yang mencari berbagai keperluan untuk berbuka puasa. Sepintas aku menangkap bayangan tubuh mungilnya membaur diantara pembeli di sebuah warung makan. Tak lama berselang sosok yang amat kukenal itu beringsut membebaskan diri dari kerumunan, melangkah gontai menuju pintu gerbang sebuah rumah kos tempatnya bernaung dari panas matahari dan hujan selama 3 tahun terakhir.


Aku berani bertaruh bahwa kresek hitam yang dijinjingnya itu berisi 4 macam bungkusan: 1 bungkus nasi porsi penuh, 1 bungkus sayur bayam, 1 paket lauk berisi hati ayam digoreng dan tempe tepung, serta 1 bungkus es jeruk tanpa gula. Itu memang menu favoritnya kalau dia membeli makan di warung seberang jalan itu. Hmmmhh, mas kangen kamu dek...


Sekian detik sebelum mencapai pintu gerbang kulihat dia menghentikan langkah dan menoleh ke sudut jalan. Kosong, tatapan mata itu begitu kosong. Seberkas senyum pahit menghiasi wajah ayunya sebelum akhirnya dia menunduk dan melangkah masuk, menghilang dari pandanganku yang sesungguhnya sangat merindukannya.


Di sudut jalan itulah biasanya aku menjemputnya. Di sana pula aku berpisah dengannya setiap aku mengantarnya pulang. Dan di bangku kayu bercat biru muda itu aku ngobrol dengannya kalau kami sedang tidak punya rencana keluar. Bangku kayu yang sangat romantis sebagai tempat ngobrol di senja yang memerah.


Dan hari ini aku hanya bisa memandangnya dari jauh, dari tempatku bersembunyi. Betapa aku tak tega melihat wajah yang biasanya ceria itu kini menjadi sendu. Senyum manis dan kekanak-kanakan itu berubah menjadi senyum yang amat getir. Ingin aku berlari menghampirinya, mengatakan padanya bahwa semua baik-baik saja, bahwa aku tidak akan pergi kemana-kemana, bahwa aku akan selalu di sampingnya untuk memastikan dia selalu bahagia.


Namun aku tidak akan bisa melakukannya lagi, karena lusa aku akan menikah dengan perempuan lain pilihan ibuku. Maafkan aku, dek...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar