Kamis, 06 Agustus 2009

Lapar,..


Yoweslah, nduk. Kalo emang keputusanmu sudah bulat, ya sudah dijalani saja. Siapa tau ini emang jalan terbaik yang disiapkan Tuhan untukmu. Tapi aku pengen share sebuah pesan singkat dari Bapakku sebelum aku dulu berangkat ke kota ini. "Cuma ada satu hal yang perlu kau ingat sebelum menentukan pilihan dalam hidup, yaitu jangan pernah membuang tumpeng demi segenggam beras yang bahkan belum menjadi nasi."


Dan aku terdiam ketika ucapan seniorku itu terngiang lagi di telingaku. Aku merasakan betapa sekian detik ke belakang aku telah menyia-nyiakan tumpeng itu dengan sengaja membuangnya ke tempat sampah. Kini ketika aku lapar, digenggamanku cuma ada beras. Mentah... Bagaimana aku bertanggungjawab pada perutku? Segenggam beras itu ternyata masih sangat jauh untuk bisa berperan sebagai bahan pengenyang perutku. Dia masih perlu diolah, mulai dari dicuci bersih hingga menjalani proses menanak yang akan memakan waktu sekitar setengah jam. Fakta yang lebih menyakitkan, dia hanya segenggam beras, bukan sekilo...

Owh, Tuhan.. Aku lapar...

Dalam derita menahan lapar, aku masih sempat menganalisa penyebab semua ini menimpa diriku.

Berawal dari sejam yang lalu ketika seorang juru masak restoran mengantarkan sebuah tumpeng ukuran besar ke rumahku. Menurutnya, tumpeng lengkap dengan lauk pauk itu sengaja dipesan oleh orang tuaku sebelum mereka berangkat ke luar kota kemarin sore. Yeah, hari ini aku memang merayakan ulang tahun dalam kesendirian. Sebenernya aku senang mendapat tumpeng itu, setidaknya orang tuaku masih peduli pada kesejahteraan perutku di hari istimewa ini. Tapi,.. Aku kan tidak suka nasi kuning?? Aku selalu mual ketika mencium baunya.

Sejurus kemudian, terdengar bisikan dari dalam hatiku demi melihat ada segenggam beras di kotak beras. Aha!! Aku masih bisa makan nasi putih hari ini, aku lebih menyukai nasi putih. Dan aku tidak memerlukan tumpeng yang membuat perutku mual ini lagi.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak,.. Dan akhirnya sekarang aku tinggal menyesali diri. Tumpeng itu sudah dipersiapkan lengkap, namun kubuang demi bayang-bayang nasi putih yang kuharapkan akan lebih ramah menyapa perut laparku..

Jika seperti ini, siapakah yang lebih patut dikasihani? Tumpeng yang telah kucampakkan ke tempat sampah tanpa ampun, atau aku yang kelaparan dan menyesal?
Hehe,..
Selamat makan...

1 komentar:

  1. emane rek, gag arep sego kuning. Enak lho padahal,.. wangi,. maknyuss,.!!

    BalasHapus