Aku sedang menekuri tissue yang sudah basah terkena air mataku ketika salah satu stasiun tv swasta menayangkan liputan tentang mereka di acara berita sore.
"Aku sekali saja tak pernah berkunjung ke tempat-tempat wisata di Jakarta, walau yang tiket masuknya paling murah sekalipun."
Suara anak perempuan itu berhasil membuatku menoleh ke layar kaca di sudut ruangan kamarku. Dan di layar itulah terpampang jelas wajah sedihnya saat kembali bercerita.
"Kami tak punya rumah, kami tinggal di kolong jembatan. Tak ada atap, tak ada lantai dan tak ada dinding seperti tempat tinggal yang layak pada umumnya. Bagi kami, memiliki tempat tinggal yang layak hanyalah tinggal impian."
Lagi-lagi aku terpekur memandang layar kaca. Wajah anak perempuan itu sudah hilang, berganti dengan tayangan kondisi kolong jembatan yang mereka sebut "rumah".
Tuhan..
Itu jauh dari kata layak.
Itu tidak bisa disebut tempat tinggal.
Aku tertampar.
Tayangan itu menampar kalbuku dengan telak
Tuhan, betapa aku ini hamba-Mu yang tak pandai bersyukur atas semua yang telah Engkau berikan.
Aku memang tak punya rumah mewah seperti istana, tapi aku punya tempat tinggal yang sangat nyaman.
Aku memang tidak punya lusinan koki yang siap membuatkanku makanan enak, tapi aku punya penghasilan yang bisa menjaminku makan cukup 3x sehari.
Dan entah berapa banyak lagi nikmat Tuhan yang tak bisa kusebutkan satu per satu.
Lalu kenapa aku masih menangis?
Jika aku menghadapi masalah, bukankah itu biasa?
Bukankah itu seninya hidup?
Kenapa aku harus lupa bersyukur pada Tuhan atas semua nikmat yang kuperoleh?
Kenapa aku harus depresi dan merutuki nasib di depan cermin?
Sementara hal itu tidak akan merubah apapun..
Mungkin aku harus belajar bersyukur dari anak perempuan di tayangan tadi.
Alhamdulilah atas semua nikmat-Mu hari ini, Tuhan..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar