"Pokoknya aku mau pindah!"
Aku melongo mendengar ucapannya yang terdengar sedikit emosi.
"Kamu mau pindah kemana lagi? Bukannya baru seminggu pindah kos?" Tanyaku heran.
"Iya, baru seminggu. Tapi aku udah gak kerasan di kos baruuuuu!" Kali ini dia pasang wajah cemberut yang jelek sekali.
"Kenapa?"
Kulihat dia bersungut-sungut sebelum menjawab pertanyaan terakhirku itu.
"Berisik! Anaknya penjaga kos suka nangis gak kenal waktu. Kan jadi gak bisa ngebo!"
Ada keringat menetes di kepala bagian belakangku - seperti adegan di film-film kartun - ketika mendengar penjelasannya tadi. Dasar tukang tidur.
"Trus gak ada tempat buat jemuran baju kalo habis dicuci. Ngeri kan kalau harus laundry??!!"
Hahh iya, anak ini paling benci laundry baju. Walau sedikit malas dalam hal lain, tapi kuakui dia sangat rajin untuk urusan cuci setrika bajunya sendiri.
"Masa cuman karena itu alasannya pingin pindah?"
"Iya."
Jawabannya pendek dan tidak masuk akal, setidaknya menurutku sih.
"Trus mau pindah kemana coba? Sudah dapet yang baru?" Tanyaku sengaja memancing, meski aku sudah bisa menebak jawabannya.
"Belom nemu sih. Entahlaaahhhhhh!!"
Tuh kan bener dugaanku.
"Dipikir-pikir dulu lah, Nin. Dicoba dulu sebulan. Kan sayang duitnya udah terlanjur dibayar penuh? Lagian kalo diliat, kosmu lumayan nyaman lho. Bersih, dan yang penting aman karena di kompleks perumahan yang pasti dijaga security 24 jam.."
Dia cemberut lagi.
"Aku gak kuat, Mbak.. Aku pingin pindah.. Secepatnya!"
----
"Mbak, mampir kosku yuk.. Ada oleh-oleh buat Mbak Sita, kemaren dibawain Mami dari rumah."
Mataku membulat menatap wajahnya. Heeeheee, sejauh aku mengenal bocah ini, Maminya selalu menitipkan oleh-oleh untukku kalo anaknya pulang kampung. Dan oleh-olehnya gak pernah sedikit. Uhuuyyy, menghemat uang jajanku seminggu biasanya.
"Oke deh, ayo berangkat sekarang ke kosmu." Jawabku girang sambil menggamit lengannya.
"Ehh, tapi ngomong-ngomong kosmu yang baru dimana ya? Aku kan belom pernah ke sana, Nin?"
Dia meringis mendengar pertanyaanku.
"Masih tetep Mbak, aku gak jadi pindah kos."
"Hahhhh??!!!! Masih tetep di kos yang gak ada jemuran bajunya itu???"
Dia hanya mengangguk sambil tetep meringis.
"Kok bisa? Bukannya dulu ngotot minta pindah secepatnya?" Tanyaku memprotes.
"Iya, Mbak. Memang dulu aku ngotot minta pindah secepatnya. Tapi setelah beberapa waktu kupaksakan menjalani penderitaan di kos baru itu, aku menyadari sesuatu. Aku mulai kerasan, terlatih kerasan mungkin lebih tepatnya. Awalnya memang susah, itu wajar. Karena aku belum terbiasa dengan suasana baru. Seiring waktu berjalan, yaaa akhirnya terbiasa juga. Akhirnya kerasan juga..."
Ninda masih saja mengoceh sepanjang perjalanan menuju kosnya. Tapi sayangnya aku sudah tidak mendengar apa yang dia ocehkan. Kalimat-kalimat terakhirnya seperti menamparku, seperti ada malaikat yang membisikkan kalimat itu pada Ninda dan akhirnya tersampaikan padaku.
Awalnya memang susah, itu wajar. Karena aku belum terbiasa dengan
suasana baru. Seiring waktu berjalan, yaaa akhirnya terbiasa juga.
Mungkin seperti itulah aku sekarang. Aku merasa susah menjalani, merasa berat menerima kenyataan pahit. Namun sesungguhnya aku hanya belum terbiasa dengan suasana baru, tanpanya. Seiring waktu berjalan, yaaa akhirnya lama-lama aku nanti akan terbiasa juga.
Dan itu kapan?
Entahlah.
---
Ditulis setelah menerima rempeyek kacang yang renyah dan enak dari Mbak Tutik, Sang Penjaga Kos. Trims Mbak Tut, rempeyeknya memberiku inspirasi untuk (menunggu) semangat baru.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar