
Dulu aku sangat mengagumi dia. Dia dengan segala cerita dan pengabdian yang diberikan pada kekasihnya. Sempat kuabadikan cerita pilu nan mengharukan itu dalam sebuah tulisan. Kuikuti kisahnya, betapa dia jatuh bangun berjuang demi kesembuhan kekasihnya itu. Pulang kantor, dia masih menyempatkan meracik jamu. Kusaksikan sendiri telapak tangannya sampai berwarna kuning senada dengan warna kunyit dari jamu itu. Perlahan tapi pasti, kelelahan itu mulai nyata merengkuh langkah kakinya. Hebat! Gak tanggung-tanggung, 3 bulan penuh dia berhasil bertahan menjalaninya hingga dokter menyatakan penyakit itu telah hengkang dari tubuh sang pacar.
Dan cerita itu berhasil menghapus kenangan pahitku atas kisah kelam perselingkuhannya 10 bulan silam. Aku memaafkan sahabatku itu...
Hingga malam ini, sekali lagi aku seakan terhenyak dari mimpi. Pengakuan dari bibirnya atas kisah perselingkuhannya kali ini membuatku diam tanpa komentar. Seminggu yang lalu aku sempat mendengar kabar itu dari orang lain, namun mereka bilang ini baru kabar burung. Dan sekarang, aku mengetahui kebenaran berita itu langsung dari narasumbernya.
Haruskah aku menghakimi sahabatku itu? Haruskah aku memarahi dan memberikan ceramah panjang lebar kepadanya? Tidak sobat, tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Mungkin kalian berkata, "Harusnya kau tegur sahabatmu itu ketika kau tau bahwa jalan yang diambilnya salah". Tapi aku berpendapat lain. Dia bersalah jika dilihat dari sudut pandang kalian. Namun pernahkah kalian mencoba memandang dari sudut pandang dia?? Tau kah kalian alasan dia memilih jalan ini? Belum tentu kalian tau,.. Dan belum tentu kalian yang benar..
Sahabat adalah orang yang akan bernyanyi untuk kita disaat kita lupa akan syairnya. Seorang sahabat bukan orang yang akan berkata sesuatu yang ingin kita dengar sehingga membuat kita terlena. tapi ia akan bercerita tentang diri kita. baik itu menyenangkan atau menyedihkan. Tidak ada salah benar dalam sebuah perasaan. karena ia buka besaran numerikan yang bulat. Hanya hatilah yang bisa menilai bagaimana itu hati.
BalasHapus