Selasa, 29 Desember 2009

Absurd


sakit itu mulai terasa
kegilaan itu mulai membelenggu
dan ketidakpastian lah yang justru menjadi nyata
menjadi suatu mimpi yang pasti datang menghampiri

adakah yang bisa dilakukan selain mengeluh??

sampai kapan bisa bertahan????
sampai kapan waktu yang tersisa????
sampai kapan aku akan benar2 sadar,
bahwa ini sudah injury time
sudah detik2 terakhir

hingga aku akan segera beranjak dari tempatku
walau hanya sekedar bergerak
agar otot2ku tidak mati
dan kelu...

bahkan aku melihat awan hitam itu sudah mulai berarak
bergerak perlahan namun pasti
mengelilingi langit tempat aku berteduh
dan melayang turun
merambah bumi yang kupijak

gersang...


















Kamis, 24 Desember 2009

Kado

Halaman sekolah ini tidak berubah, dominasi lapangan tanah yang merangkap tempat upacara dan lapangan olahraga masih terlihat jelas. Semilir angin di siang hari seolah mengirimkan sinyal damai dari sawah yang terbentang luas di belakang bangunan tua itu. Dan seragam putih-merahku pun ikut berayun mengikuti buaian angin…

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan menyodorkan sesuatu. “Buat kamu. Aku gak lupa kok kalo hari ini kamu ulang tahun. Sorry ya Li, tapi hari ini aku ada janji sama Kristin. Have a nice day,” ucapnya sambil tersenyum dan berlalu.

Rian, itu tadi Rian. Cowok paling keren di angkatanku yang sudah 6 taun jadi sohibku, pinter dan jago olahraga.

Kubuka bungkusan berbalut pita warna pink itu. Hmmm.. sebuah pigura membingkai indah fotoku berdua dengannya. Dan sebuah kartu ucapan, “Li, aku tau aku gak selalu bisa nemenin kamu sekarang. Tapi kamu harus tau, aku gak pernah berubah. Kayak foto ini, kita bakal selalu jadi sohib. Good luck yah, Sist?

Aku memejamkan mata. “Bagiku kamu dah berubah Rian,..

………..



Hey! Bengong aja sih, kesambet setan tau rasa loh..
Idiiihh, apaan sih. Kamu telat satu jam, tau!” aku ngedumel sambil menyingkirkan tangannya yang seenaknya nyubit hidungku.

Sorry, Ret. Aku ke rumah dulu ambil ini, buat kamu. Met ulang taun ya? Gak boleh ngambek, ni udah mati-matian usaha jadi cowok romatis lho..
Hmmmm, boneka Pikachu. Hihihi, tau aja kalo aku ngiler pingin boneka itu.
Makasih.. hehe, aku sukses nih bikin seorang Hendra masuk ke toko boneka. Hahaha..
Demi cinta..” katanya dengan muka menyebalkan itu.
Gombal!!

Makasih banget, Hen. Tapi aku gak bisa dibohongi, matamu selalu jujur. Aku janji takkan jadi bebanmu lagi..

……….

Ded, sepuluh menit lagi dimulai!” Gaguk berteriak di depan ruang rapat OSIS. Dan cowok yang disebut Dedy tadi hanya mengacungkan jempol kanannya tanpa menoleh dariku.


Aku bener-bener gak tau kalo hari ini ada rapat, Mbak. Mbak mau nunggu sampe rapat selesai? Tapi takutnya sampe sore, aku kasian sama Mbak.
Gak wes, aku pulang aja. Ntar kamu gak tenang kalo rapat sambil ditungguin gini.” Ucapku sedatar mungkin, berharap dia tidak semakin merasa bersalah karena telah membuatku kecewa.

Maaf ya, Mbak. Ntar abis rapat aku ke kos deh.
Ya sudah, sana masuk. Dah ditungguin tuh. Pemimpin yang baik itu gak boleh sering-sering telat kalo rapat.”
Iya. Tapi tunggu bentar ya, Mbak.” Dia berlari masuk ke ruang OSIS dan kembali membawa bungkusan.

Buat, Mbak. Met ulang taun ya? Sorry baru nemu novelnya sekarang. Habis Agatha Christie langka banget di kota kecil seperti ini.” Ucapnya sambil tersenyum lega karena berhasil memberiku novel yang sudah lama kuincar. Aku yakin dia harus hunting ke luar kota demi mendapatkan novel itu karena semua toko buku di kota ini telah kusisir, dan novel itu tak ada.

Makasih... Penuh perjuangan nih kayaknya. Hehe. Ya sudah sana masuk. Ntar dikira aku nyulik kamu lagi.”
Dia nyengir dan beranjak masuk ke ruang rapat itu setelah untuk kesekian kali Gaguk berteriak-teriak mengingatkan bahwa rapat sudah dimulai. Dasar anak SMA…


Mereka benar, Ded. Aku memang udah merebut kamu dari mereka. Sudah saatnya kukembalikan kamu ke duniamu, fokus bersama mereka.


..............



Hhmm,.. sial banget. Siang-siang bolong disuruh ke kampus, eh ternyata cuma dikasi tugas. Maksud loh ?? Dasar ketua kelas gak jelas. Kirain jadi ujian praktek....” aku mulai ngedumel dari kampus sampe tempat parkir motor.

Hey, Dek! Ngomel mulu sih. Mirip orang gila loh.” Tepukan di pundakku itu cukup keras, sampai-sampai aku bersiap pasang kuda-kuda. Dan orang yang bersangkutan lah yang justru nyengir kuda sekarang.

Ngapain pasang kuda-kuda gitu. Waaaahhhh, ampun dek. Saya orang baik...”

Aku sudah bersiap melempar buku diktat setebal 430 halaman ke arahnya ketika dia menyodorkan setangkai mawar merah ke arahku.

Nih, katanya minta mawar. Cukup kan setangkai mawar buat kado? Hehe. Lagi tekor nih, Dek. Salah siapa ulang tahun kok akhir bulan? Itu juga udah ngorbanin jatah buat sarapan pagi. Dan sekarang aku lapar. Ayo, tanggung jawab. Traktir makan ya ? Di ikan bakar wana wisata! Ya ? Ya ?

Maksa banget sih! Siapa bilang kadonya diterima ? Siapa juga yang bilang mau traktir makan ? Aku capek, bete, pingin pulang trus tidur.” Aku pura-pura merajuk dan pasanga tampang seolah hendak benar-benar pulang.


Lho kok gitu ? Ayolah dek, aku udah jauh-jauh ke kampus nih padahal gak ada kuliah. Ayo jalan-jalan ke wana wisata, aku yang traktir. Ya sudah, aku traktir makan sekalian. Kurang ya ?? Tak bonceng deh ke sana, kamu tau beres dan tiba-tiba nyampe tujuan. Tunggu sini bentar, aku ambil motor.”

Hehe, dasar orang aneh. Maksa banget. Yang ulang tahun siapa, yang ribet siapa. Aku nyengir kuda aja di luar parkiran. Trik pura-pura ngambek ternyata berhasil. Hihihi...

Baiklah, Mas. Setangkai mawar dan paket jalan-jalan itu kuanggap sebagai kado ulang tahun. Cukup, itu lebih dari cukup. Aku tidak akan meminta lebih. Dan aku takkan memintamu menemaniku seumur hidupmu.


………



Miawww…
Kali ini aku terbangun mendengar kucing kesayanganku berteriak-teriak minta makan. "Ughhhh, masih pagi pussy.." Dan dia tidak peduli. Dengan malas aku bangun dan menuju dapur mengikuti kucing gendut itu berjalan sambil mengibas-ngibaskan ekor.

Happy Birthday, Mama!” ucap mereka bersamaan ketika aku muncul di dapur. Hmmm, si kecil yang rupanya sudah mandi langsung berlari memelukku dan mencium pipiku. “Panjang umur ya Ma, dan tetep bisa masakin sup ayam buat Dedek.”

Hahaha, aku tertawa mendengar celotehnya. Dasar anak-anak. “Makasih, Sayang.” Kucium pipinya yang tembem itu berkali-kali.

Trus papa gak dapet apa-apa nih? Padahal sudah beli kue tart, trus udah mandiin Dedek pagi-pagi juga. Hmmmm….” Suami tersayangku itu pasang tampang wajah cemberut.

Iya, iya Papa. Makasih surprise-nya. Hari ini mama masak spesial deh buat Papa sama Dedek. Tapi mama mandi dulu ya ? Ntar abis itu kita potong kuenya juga. Oke ?

Oke deh.” Katanya sambil mengacungkan jempol kanannya dan mengajak juniornya beranjak ke ruang keluarga dengan berisik. Like father like son..

Miawwww...
Si puss menagih sarapannya. Kutuang sekaleng kecil makanan instant ke tempat makannya. Kasian, tampaknya tadi malam aku lupa memberinya makan akibat pulang larut dari luar kota.


Hhhheehhhh….
Aku menghela nafas dan menuju kamar mandi. Masih tergambar jelas mimpiku semalam. Tidak, aku tidak mimpi. Aku benar-benar mengalami semua itu, dulu..


Senin, 21 Desember 2009

eNY

Lho, Mas? Ngapain di sini?” kusapa dia yang duduk menungguku di ruang tamu.
Aku kan pengen ketemu kamu. Gak boleh?” jawabnya diiringi senyum yang selalu penuh makna itu. Ya Tuhan, aku tak sanggup menghadapi orang ini. Aku gak siap, oke lah seenggaknya gak sekarang.

Aku berjalan mendekat dan dia mengulurkan tangan padaku. Masih, tangan itu pun masih sehangat dulu ketika kemudian kujabat. Sedetik aku tertunduk tak bisa berkata apapun di depannya.

Hentikan! Bukan saatnya bermimpi. Hadapi kenyataan, Li!!

Tersadar aku pun segera memposisikan diri sebagai tuan rumah yang baik. “Kok mas ke sini? Bukannya pengantin baru belom boleh jalan-jalan yah?” tanyaku seraya menahan perih yang diam-diam mulai mengiris sudut-sudut hatiku lagi. “Sudah kubilang kan kalo aku pengen ketemu kamu? Aku pengen ngenalin istriku ke kamu. Kamu sih kemaren gak dateng ke acaraku. Tega kamu, Dek.” Aku hanya tersenyum pahit mendengarnya mengucap kalimat itu tanpa beban. Sungguh, itu adalah senyum paling munafik yang pernah kuberikan pada orang lain. “Mas tunggu bentar yah, kuambilkan minum.” Segera aku bangkit berdiri dan berjalan membelakanginya menuju ruang tengah hanya untuk menyusut setitik bulir bening yang terus memaksa mengalir dari sudut mataku.

Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi ini.

Kuletakkan segelas es jeruk di hadapannya, itu minuman favoritnya. “Eh, Dek. Bentar yah? Itu istriku dateng.” Kuamati dia melangkah keluar menjemput seorang perempuan berkerudung panjang yang menggendong seorang bayi dan membawa mereka masuk. Bayi?? Bukannya mereka baru menikah minggu kemaren??

Tuhan, ini dia perempuan itu. Perempuan yang dinikahinya dan memupuskan jalanku untuk hidup bersamanya. Perempuan itu mendekat dan menyalamiku. “Eny. Kamu Lia kan?” Aku mengangguk dan membalas uluran tangannya. Biasa saja, siapa yang bilang perempuan ini begitu cantik dan anggun?? Lalu, apa alasan dia menikahi perempuan ini?
Oh tidak, tidak. Setan jahat, pergilah dari pikiranku. Jangan ajari aku untuk mencela orang lain begini!

Aku menikahi Eny karena bayi ini, Dek.” ucap laki-laki itu seolah mengerti pertanyaan dalam hatiku tentang bayi yang digendong istrinya.

Owh, karena bayi itu alasannya. Tapi tunggu dulu.. Apa ??!! Karena bayi itu ??!! Apa maksudnya ?? Oh Tuhan, tidak. Jangan bilang bahwa bayi itu anak mereka.

Tidakk!!
Aku berteriak histeris dan menutup telingaku dengan kedua tanganku.

Dan,..
Hosh, hosh, hosh!!!
Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal. “Astaghfirullah hal adziim,” aku mengucap istighfar seraya meneguk sedikit air putih dari gelas di meja kerjaku. Sekilas kulihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ya Tuhan, rupanya aku mimpi. Mungkin tadi aku terlalu capek dan akhirnya tertidur di sini.

Kututup window di monitorku yang masih menampilkan profil laki-laki dalam mimpiku tadi pada sebuah jejaring sosial. Terpampang di profil itu foto pernikahannya yang baru saja di upload 5 jam yang lalu.

Aku menghela nafas panjang dan bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan Qiyamul Lail. Dalam dzikir aku berusaha menenangkan hatiku yang masih amburadul gara-gara mimpi aneh barusan. Tak lama berselang, aku pun larut dalam do’a, pasrah menyungkur di sajadahku yang basah.

Aku tau pasti bahwa mimpi tadi hanyalah mimpi, kenyataannya tidaklah demikian. Dia, orang yang selalu kupuja, orang yang begitu sempurna di mataku, memang telah menikah dengan perempuan bernama Eny itu seminggu yang lalu. Tapi sesungguhnya mereka menikah baik-baik, dan pernikahan suci itu telah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Mungkin aku yang belum ikhlas sampai-sampai aku memimpikan hal yang tidak-tidak seperti itu.

Tuhan, ikhlaskan hatiku menerima dan menjalani takdir-Mu ini. Aku mencintainya karena-Mu. Aku bertemu dengannya juga atas izin-Mu. Dan jika sekarang Engkau pisahkan aku darinya, pasti ini jalan yang terbaik untukku dan dirinya. Aku yakin Engkau pun telah mempersiapkan pengganti yang lebih baik untukku.

Kututup do’aku malam itu dengan bersujud sekali lagi.

Minggu, 25 Oktober 2009

Senyum adalah Hikmahnya,..


"Permisi, Pak. Kami berdua berangkat sekarang."
Si bos yang sudah lewat paruh baya itu hanya mengangguk. "Jangan lupa besok Senin masuk kantor tepat waktu ya?"


Pesan terakhirnya itu serasa hanya angin lalu sebab aku dan temanku sudah menghambur menuju pintu keluar dan tancap gas bersama tukang ojek, menerjang gerimis lebat menuju stasiun. Kurang dari sejam lagi kereta kami akan segera meninggalkan ibu kota menuju Surabaya.


Dengan 3 lembar tiket tergenggam di tangan, aku melangkah masuk menerobos kerumunan ratusan calon penumpang. Temanku itu hanya mengekor karena dia belum begitu mahfum soal stasiun besar ini dan perjalanan panjang yg akan kami tempuh nantinya.


Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil menemukan sosoknya tengah berdiri di antara calon penumpang yg lain. Hmmhh, kasian.. Dia masih tampak sangat lelah setelah perjalanan jauh dari tempat kerjanya. Sebersit rasa senang menghampiriku. Pada wisuda esok hari aku dengan bangga akan memakai toga ku dan berjalan di sisi nya. Hehe..


Ddrrrtttt... ddrrrttt...
HP ku bergetar untuk kesekian kalinya. Owh Tuhan, aku lupa! Masih ada satu teman kerjaku yg belum mendapat tiket pulang untuk wisuda besok. Sms darinya mengingatkanku untuk segera mengantri di loket lagi dan berharap semoga masih ada sisa tiket hari itu. Meski aku yakin kemungkinannya sangat kecil. Dia butuh keajaiban untuk bisa mendapat tiket pulang.


Sepuluh menit aku mengekor di belakang antrian panjang perebutan sisa tiket itu ketika sekilas aku melihatnya menerima telepon. Kusadari raut mukanya berubah ketika berjalan mendekatiku.

"Gak usah antri tiket lagi. Kasikan tiketku sama temenmu. Aku gak jadi ikut pulang. Mendadak aku ada acara keluarga di sini, acaranya besok. Dan sekarang keluargaku sudah dalam perjalanan ke sini."
"Iya."


Hanya aku yg tau kalo jawabanku sebenarnya lebih dari kata "iya" itu. Menurutmu apa yg aku pikirkan saat itu? Ya sudahlah tidak penting. Yang kuingat saat itu aku hanya ingin segera berangkat, sebelum terjadi reaksi yg berlebihan dari alam bawah sadarku.


Teman kantorku itu sampai di stasiun tepat pada waktunya. Setelah berpamitan sewajarnya, aku dan mereka berdua segera masuk ke peron keberangkatan, meninggalkan dia di sana sendiri. Aku tidak menoleh lagi, hanya berjalan lurus masuk kereta dan segera menemukan kursiku. Kupilih duduk bersama orang yg tidak kukenal dan sepanjang malam menghabiskan setengah gulung tissue yg selalu ada di tasku. Sementara di kursi sebelah, dua orang temanku itu hanya saling berpandangan dan sama-sama mengangkat bahu melihat kondisiku.


Hampir setaun sejak tragedi wisuda itu, kadang aku masih miris mengingat perpisahanku dengannya di pintu stasiun. Mengingat dengan jelas betapa wisuda itu akhirnya menjadi mummi berbalut tissue yg selalui menghantui di mataku. Namun, aku tak pernah menyesali kejadian itu. Tuhan memang Maha Adil. Di balik semua rasa getir tak terkira yang pernah kurasakan, aku dan dia masih bisa tersenyum bersama ketika kami melihat dua orang temanku itu sekarang menjadi sepasang kekasih dan berbahagia. Hehe, tiket kereta malam itulah yg telah menyatukan mereka berdua. Tiket kereta yg harusnya membawa dia pulang menghadiri wisudaku.. Semua memang sudah diatur.. ^^





Dedicated for:
my pussy,.. piss yah?? ^^V
all my beloved friends in T*Y**A,.. what a sweet memories..
both of my senior,.. jgn terulang sabtu besok lho?
yg baca,.. jgn diambil hati.. cuma keisengan dlm rangka menyambut wisuda poltek 2009.. :D

Rabu, 14 Oktober 2009

Minus one,..

Tak pernah terpikir olehku,
Tak sedikit pun kubayangkan...


Bagi fans ST 12, bait di atas pasti akan dilanjutkan dengan kalimat "kau akan pergi, tinggalkan kusendiri.." sesuai rangkaian syair dalam lagu berjudul "Saat Terakhir".


Namun tidak bagiku. Aku lebih senang membuatnya menjadi kalimat lengkap seperti ini: tak pernah terpikir olehku, tak sedikit pun kubayangkan, aku yang akhirnya harus menyakiti dan melukainya.


Malam ini aku hanya bisa termenung di ujung telepon ketika dia menuturkan betapa dia tersakiti oleh tingkahku. Padahal bagiku, dia termasuk top ten dalam list orang yang paling ingin kujaga perasaannya agar tak sampai terluka.


"Malam itu mau tidak mau aku akhirnya kecewa. Kusiapkan berpuluh film di laptop ku karena aku berniat bisa seru-seruan menontonnya bersamamu. Dan aku hanya bisa diam ketika kamu bilang bahwa kamu sudah nonton semua film itu..."


Seketika aku dan semua belas kasihku padanya runtuh ke bumi. Bodoh! Hanya itu makian yang bisa kutudingkan pada diriku. Selama ini, sejauh aku melangkah dalam menapaki jalan hidupku, aku selalu menjunjung tinggi ajaran orang tuaku untuk menghargai orang lain. Aku selalu berusaha seberhati-hati mungkin agar kata dan perilakuku tidak menyakiti mereka, tidak membuat mereka merasa direndahkan, tidak membuat mereka merasa tak diharagai atau bahkan membuat mereka merasa apa yang telah mereka lakukan untukku sia-sia belaka. Meski sebenarnya tanpa mereka pun aku sudah bisa memenuhinya sendiri, tak apa. Tapi jangan tunjukkan hal itu pada mereka.


Dan hari ini, sekalinya aku menyadari bahwa aku telah terpeleset jalan, justru dia yang harus menjadi korban dan menelan pil pahit. Ya Tuhan, kenapa harus dia?? Aku takkan pernah rela telah menyakitinya...


Jauh-jauh hari semenjak mengenalnya, aku seolah terlalu dini menyadari betapa halus perasaan orang ini. Dia takkan tega melihat orang lain menderita, pun dia sendiri sebenarnya mudah terluka oleh tingkah dan ucapan yang sekiranya tak berkenan di hatinya.


Maaf,..
Seribu kata maaf yang ingin kusampaikan padanya serasa tak cukup. Andai dia di sini, aku akan berlutut dan mencium tangannya meminta maaf.


"Gak papa,.. Sudahlah lupakan,.. Aku gak papa kok. Cuma kalo sekarang kita bahas soal film lagi, aku jadi ngerasa gak enak aja. Masih terasa kecewanya. Selebihnya aku gak papa.. Dan kita akan baik-baik saja."


Sampai nanti, aku gak akan pernah bisa menghapus rasa bersalahku padanya. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan karena kusadari waktu tak mungkin berputar balik. Aku hanya bisa merekam memori ini sedalam-dalamnya agar tak sampai terulang pada siapapun. Dan berusaha selalu melakukan yang terbaik untuknya. Tidak, itu takkan bisa menebus salahku. Setidaknya dengan menjadi orang yang lebih baik, aku menghargai air mata darinya yang telah tertumpah karenaku.



Maafkan aku, mas...

Kamis, 10 September 2009

Bulir Bening


Di sini aku melihatnya malam ini,.. duduk bersimpuh di hadapanku,.. di karpet merah di kamarku. Aku bengong melihat bulir bening itu menetes membasahi pipinya yang chubby. Tak ada yang bisa kulakukan selain menyodorkan segulung tissue padanya. Diambil dua lembar,..

Semenit kemudian, dia terisak hingga bahunya terguncang pelan. Dan tangis itu benar-benar meledak, meski tetap tanpa suara,.. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan emosi jiwanya yang turut meledak bersama tangis pilunya itu..

Sobat,.
Ada apakah kiranya denganmu? Masalah apakah gerangan yang bisa membuatmu sedemikian bersedih? Siapa yang tega melukai hatimu yang lembut itu?

Dia memandangku sekilas,. Berusaha tersenyum, walau sangat getir,. Namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya..

Sekali lagi dia terisak, dan membenamkan mukanya yang mulai memerah ke dalam pangkuannya. Kali ini bahunya terguncang semakin keras, dan bulir-bulir bening itu membanjir di pipinya.

Tuhan,.
Aku tidak tahan melihatnya seperti ini. Apa yang harus aku lakukan agar sahabatku ini berhenti menangis?

Sobat,. (kataku sambil memeluknya)
Katakan padaku apa yang bisa kulakukan untukmu?

Kubiarkan dia menangis dalam pelukanku,..

Tak pernah kuketahui apa sebab dia berlaku demikian,.. Hampir tengah malam ketika aku berhasil membujuknya untuk tidur. Hanya satu kalimat yang dia ucapkan sebelum akhirnya terlelap, "Ternyata aku juga terluka melihatnya terluka, dan luka itu terasa sangat sakit."

Aku hanya mengangguk dan menepuk-nepuk pundaknya. Kupastikan dia telah terlelap sebelum akhirnya aku beranjak pergi.

Tuhan,.

Lelapkan tidurnya.. Jagalah dia malam ini,. hingga esok fajar merekah dengan indah.. untuknya.



Dedicated for both of you my sist,.
No more tears,..
I love u all

Rabu, 09 September 2009

Bahwa Hari Ini 09.09.09

MELEPASMU



Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

Semakin kumenyayangimu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Suatu saat nanti kau kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yg tak pernah menyatu

Semakin kumenyayangimu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Maafkan aku yang membiarkanmu
Masuk kedalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin

Semakin kumenyayangimu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Semakin terasa cintamu
Semakin kuharus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

I will let you go
I will let you go

Rabu, 02 September 2009

Terangkai,..


new_R: gue yakin loe pasti enggak tau kabar ini..
me: apa?

new_R: musuh loe itu beneran udah nikah.
me: nikah? ahh, yg bener loe? sama cowoknya itu?

new_R: iyah. malah sekarang udah punya bebi..
me: whatttt????



Gue lupa entah kapan tepatnya gue mulai bermasalah sama dia. Pokoknya yang gue ingat, gue emang udah gak suka sama tuh bocah dari awal pertama ngeliat. Sok. Satu kata itu aja yang terlintas di benak gue. Dan entah kenapa gue juga gak seneng ngeliat tampangnya itu, nyebelin dan bikin mata gue sepet...

Berjalan beberapa lama, gue mulai denger pujian di sana sini untuknya. Kata orang-orang sih dia pinter, padahal kalo menurut gue dia itu cuma pinter ngomong 'n ngambil ati para dosen di kampus. Sempet gue ketawa sinis waktu gue denger dia dulu gak lulus ujian nasional dan musti ikut ujian ulang hanya untuk dinyatakan lulus SMA.

Gue mulai panas ngeliat tingkah nih bocah pas gue kesrempet kasus antar kelas gara-gara dia. Ceritanya waktu itu dia lagi naksir Zulfi, senior setingkat di atas gue. Kebetulan tuh orang lagi deket sama gue, bukan apa-apa sih cuma sebatas bantuin dia deketin temen gue. intensitas ketemuan gue sama nih orang yang cukup sering rupanya bikin tuh bocah jadi sensi sama gue. Gak tau gimana dia nyritainnya, ujung-ujungnya seisi kelasnya jadi tau kasus ini. Parahnya cerita yang beredar itu salah karena gue dituduh ngrebut nih orang dari tangan tuh bocah, padahal semua orang tau kalo nih bocah naksir tuh orang. Damm it!

Sejak saat itu gue bener-bener perang sama nih bocah. Kalo gak urgent banget gue gak bakal sudi ngomong sama dia, walau cuma say "hai"...

Di kampus, sepak terjangnya makin menggila setelah ternyata Zulfi milih orang lain sebagai ceweknya. Bukan gue lah yg pasti. Prestasi belajar nih bocah melejit sampe langit. Beberapa kali IP tertinggi berhasil disabet olehnya. Puncaknya pas wisuda angkatan gue kemaren, dia dapet anugerah sebagai si empunya IPK tertinggi di jurusan gue.

Cabut dari kampus, gue sama dia sama-sama terbuang di negeri orang. Sedikit bangga sih nyadar kalo perusahaan yang merekrut gue jauh lebih besar daripada perusahaan tempat dia kerja. Of course, dari segi gaji maupun fasilitas gue menang telak dari dia. Mau gak mau setan dalam pikiran gue pun jingkrak-jingkrak, makan deh tuh IPK tertinggi...

Sibuk dengan urusan kerjaan membuat gue lupa sama nih bocah. Walau sesekali namanya masih tersebut jika gue lagi ngobrol sama kenalan yang kebetulan satu company dengan cowoknya.. (haha, akhirnya dia mau nerima lelaki lain sebagai kekasihnya.. menggantikan Zulfi yang dulu dia puja-puja sampe gue keseret-seret kasus paling konyol dan bodoh itu).

Sekarang bilangan hari hampir genap setaun sejak gue terakhir ketemu dia pas wisuda angkatan gue. Dan barusan tiba-tiba gue denger namanya ramai disebut temen-temen kuliah gue dulu di forum chatting. Kata kunci obrolan itu pun sangat mengejutkan menyapa telinga gue, "married diem-diem" dan "baby". Sejenak gue merangkai-rangkai... Dia sudah married diem-diem dan bahkan sekarang baby-nya sudah lahir.

Gue ketik email singkat ke sohib gue yang tempat kerjanya kebetulan deket sama office nih bocah. Sepuluh menit berlalu sebelum gue terima balasan yang tak kalah singkat dari sohib gue itu.
"Gue udah denger kalo dia nikah. MBA."
Gue sempet tertegun baca tiga huruf itu, MBA.. Married by Accident...

Sekali lagi pikiran gue melayang ke masa-masa yang udah gue ceritakan di atas. Cewek berpostur kecil dan ramping itu sebenernya cantik, meski dia gak berbakat jadi cewek manis. Gerak lincahnya cenderung menguatkan persepsi orang bahwa dia adalah anak manja, sangat manja. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dia juga cerdas dan ambisius. Sedetik berselang bayangan itu berganti menjadi imajinasi gue atas dirinya sekarang, telah bersuami dan memeluk bayi tak berdosa itu dalam gendongannya...




Tuhan,..
Sedemikian hebatkah efek buruk dari metropolitan hingga mereka berdua pun terseret ke salah satu sudut lembah dosa itu???

Kamis, 20 Agustus 2009

Kamboja,..


Masih tak percaya aku sedang berdiri di tempat ini. Selama ini aku memang selalu ingin berkunjung ke kota ini, makanan khasnya yang merupakan hasil fermentasi itu sangat nyummy menyapa lidah.
Tapi gak sekarang, dan gak seperti ini caranya..


-----

"Yaudah, sampe ketemu yah? Besok pagi aku balik kok. Anakku jangan pulang dulu, tunggu Papa yah?"


Kututup telepon yang telah membangunkanku pagi ini. Benar-benar sahabat yang aneh. Aku sudah lupa kalau dia itu sahabatku. Dia begitu dewasa menyikapi hidup dan kehidupan. Itulah yang membuatku betah memanggilnya Papa, terlanjur. Dan memang benar, penilaianku terhadapnya itu diaminkan oleh teman-temanku.


-----


Gedung tua itu tampak sepi, catnya yang berwarna kuning gading sudah mulai kusam dimakan usia. Bener-bener kondisi yang tidak layak mengingat betapa besar biaya yang kuhabiskan setiap tahunnya untuk memperoleh sedikit tempat di salah satu ruangan di dalamnya bersama sekelompok teman-temanku yang lain. Ironisnya semua itu dilakukan dalam rangka memperebutkan selembar kertas berhiaskan foto terbaru dan bercap segilima berwarna ungu, logo suatu otoritas tertinggi di area dimana gedung tua bertingkat itu dibangun bersama teman-teman tuanya yang lain.


Hfffhh,.. Aku duduk melepas lelah di beranda gedung itu, sebut saja gedung A. Kubuka novel kedua yang sempat kubawa hari ini. Semoga lembaran halamannya tidak berakhir sebelum aku bertemu dengan dia, entah kapan. Harus hari ini pokoknya.


"Hey, Bu. Ngapain duduk ngelamun sendirian di situ? Mending ikut kita-kita aja ke rumah Bang Kod. Lumayan nih, jarang-jarang dia ngadain makan-makan pas ulang tahun. Ayok!"

"Duluan wes, masih ada urusan. Bilangin ke Bang Kod ntar aku nyusul."

Sambil melambai, serombongan teman-temanku di himpunan itu pun beranjak meninggalkan area parkir yang letaknya bersebelahan dengan gedung A.


Sepi. Kemana yah dia? Sejam yang lalu aku terakhir melihatnya masih berkutat di ruang workshop. "Tunggu, dek. Alatku belom kelar." Kurang lebih itu yang diisyaratkan dengan gerakan tangannya yang mulai tampak lebih kurus. Kasian, tuntutan menyelesaikan "last big job"-nya kali ini membuatnya seolah lupa mengurus diri.


Sudah 2 jam berlalu. Hampir jam 1 siang, anehnya aku belum merasa lapar.


-----


Papa sudah nyampe belom? Send.

New text message. Belom, Kak. Di sini sepi.

Belom nyampe?? Aku menghitung mundur. Harusnya dia sudah nyampe kalau perjalanan dari rumahnya ke sini hanya butuh waktu 5 jam. Apa mungkin dia mampir ke kontrakan dulu? Ya sudah. Paling-paling nanti sore dia baru ke sini.



Drrtt, drrtt... New text message.
Aku beli komponen dulu, baliknya agak lama. Kalo mau duluan silakan, dek.


Hayaaahhh, apa-apaan orang ini. Ditunggu dari tadi kok malah kabur? Sudah terlalu siang untuk pulang ke kos, pasti jalanan panas banget. Akhirnya kuputuskan untuk mampir ke "arena bermain" di belakang deretan gedung tua bertingkat itu. Tempat ini selalu asyik dijadikan arena melarikan diri bagi teman-temanku yang malas mendengarkan "orang berpidato" di gedung tua. Tapi gak semua penduduk "arena bermain" ini pemalas, ada juga yang memanfaatkan arena ini sebagai tempat mengembangkan hobi dan kreatifitas.



New text message, hampir jam 3 sore. Tumben temen kelasku ini sms? Haduwh, jangan-jangan ada kelas sore ini?!

Bu, kamu tau kabar soal Papamu gak? Aku denger dia kecelakaan tadi pagi, dan sekarang dia sudah "gak ada"...

Sender: Haris 3B.



-----


Dan di sini lah aku hari ini, berdiri mematung di hadapan makam yang masih merah.


Sms jam 3 sore itu membuyarkan segalanya. Antara percaya dan tidak, aku dan seorang temanku yang tersisa di sekretariat menghambur ke wartel untuk mencari tau kebenaran berita itu. Aku berusaha menelepon ke kontrakan Papa, berharap dia mengangkat telepon dan memastikan berita itu hanya sekedar keisengan yang tidak bertanggung jawab. Tak ada jawaban. Aku keluar. Di KBU sebelah, temanku itu mencoba menghubungi handphone Papa. Tampak dia bercakap-cakap dengan seseorang di seberang, agak lama. Aku cemas menantikan kabar darinya. Hingga semuanya terjawab saat temanku itu meletakkan gagang telepon dan keluar, matanya basah...



Terngiang kembali ucapan Papa pagi itu, "Anakku jangan pulang dulu, tunggu Papa yah?".


Seandainya hari itu aku pulang, aku takkan pernah bisa ke sini. Takkan bisa mengantar kepergiannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.



Selamat jalan, Papa. Dirimu dan kenanganmu takkan lekang oleh waktu...

Minggu, 09 Agustus 2009

Minimize...


Menjelang maghrib jalanan mulai ramai oleh anak-anak kos yang mencari berbagai keperluan untuk berbuka puasa. Sepintas aku menangkap bayangan tubuh mungilnya membaur diantara pembeli di sebuah warung makan. Tak lama berselang sosok yang amat kukenal itu beringsut membebaskan diri dari kerumunan, melangkah gontai menuju pintu gerbang sebuah rumah kos tempatnya bernaung dari panas matahari dan hujan selama 3 tahun terakhir.


Aku berani bertaruh bahwa kresek hitam yang dijinjingnya itu berisi 4 macam bungkusan: 1 bungkus nasi porsi penuh, 1 bungkus sayur bayam, 1 paket lauk berisi hati ayam digoreng dan tempe tepung, serta 1 bungkus es jeruk tanpa gula. Itu memang menu favoritnya kalau dia membeli makan di warung seberang jalan itu. Hmmmhh, mas kangen kamu dek...


Sekian detik sebelum mencapai pintu gerbang kulihat dia menghentikan langkah dan menoleh ke sudut jalan. Kosong, tatapan mata itu begitu kosong. Seberkas senyum pahit menghiasi wajah ayunya sebelum akhirnya dia menunduk dan melangkah masuk, menghilang dari pandanganku yang sesungguhnya sangat merindukannya.


Di sudut jalan itulah biasanya aku menjemputnya. Di sana pula aku berpisah dengannya setiap aku mengantarnya pulang. Dan di bangku kayu bercat biru muda itu aku ngobrol dengannya kalau kami sedang tidak punya rencana keluar. Bangku kayu yang sangat romantis sebagai tempat ngobrol di senja yang memerah.


Dan hari ini aku hanya bisa memandangnya dari jauh, dari tempatku bersembunyi. Betapa aku tak tega melihat wajah yang biasanya ceria itu kini menjadi sendu. Senyum manis dan kekanak-kanakan itu berubah menjadi senyum yang amat getir. Ingin aku berlari menghampirinya, mengatakan padanya bahwa semua baik-baik saja, bahwa aku tidak akan pergi kemana-kemana, bahwa aku akan selalu di sampingnya untuk memastikan dia selalu bahagia.


Namun aku tidak akan bisa melakukannya lagi, karena lusa aku akan menikah dengan perempuan lain pilihan ibuku. Maafkan aku, dek...

Kamis, 06 Agustus 2009

Lapar,..


Yoweslah, nduk. Kalo emang keputusanmu sudah bulat, ya sudah dijalani saja. Siapa tau ini emang jalan terbaik yang disiapkan Tuhan untukmu. Tapi aku pengen share sebuah pesan singkat dari Bapakku sebelum aku dulu berangkat ke kota ini. "Cuma ada satu hal yang perlu kau ingat sebelum menentukan pilihan dalam hidup, yaitu jangan pernah membuang tumpeng demi segenggam beras yang bahkan belum menjadi nasi."


Dan aku terdiam ketika ucapan seniorku itu terngiang lagi di telingaku. Aku merasakan betapa sekian detik ke belakang aku telah menyia-nyiakan tumpeng itu dengan sengaja membuangnya ke tempat sampah. Kini ketika aku lapar, digenggamanku cuma ada beras. Mentah... Bagaimana aku bertanggungjawab pada perutku? Segenggam beras itu ternyata masih sangat jauh untuk bisa berperan sebagai bahan pengenyang perutku. Dia masih perlu diolah, mulai dari dicuci bersih hingga menjalani proses menanak yang akan memakan waktu sekitar setengah jam. Fakta yang lebih menyakitkan, dia hanya segenggam beras, bukan sekilo...

Owh, Tuhan.. Aku lapar...

Dalam derita menahan lapar, aku masih sempat menganalisa penyebab semua ini menimpa diriku.

Berawal dari sejam yang lalu ketika seorang juru masak restoran mengantarkan sebuah tumpeng ukuran besar ke rumahku. Menurutnya, tumpeng lengkap dengan lauk pauk itu sengaja dipesan oleh orang tuaku sebelum mereka berangkat ke luar kota kemarin sore. Yeah, hari ini aku memang merayakan ulang tahun dalam kesendirian. Sebenernya aku senang mendapat tumpeng itu, setidaknya orang tuaku masih peduli pada kesejahteraan perutku di hari istimewa ini. Tapi,.. Aku kan tidak suka nasi kuning?? Aku selalu mual ketika mencium baunya.

Sejurus kemudian, terdengar bisikan dari dalam hatiku demi melihat ada segenggam beras di kotak beras. Aha!! Aku masih bisa makan nasi putih hari ini, aku lebih menyukai nasi putih. Dan aku tidak memerlukan tumpeng yang membuat perutku mual ini lagi.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak,.. Dan akhirnya sekarang aku tinggal menyesali diri. Tumpeng itu sudah dipersiapkan lengkap, namun kubuang demi bayang-bayang nasi putih yang kuharapkan akan lebih ramah menyapa perut laparku..

Jika seperti ini, siapakah yang lebih patut dikasihani? Tumpeng yang telah kucampakkan ke tempat sampah tanpa ampun, atau aku yang kelaparan dan menyesal?
Hehe,..
Selamat makan...

Senin, 03 Agustus 2009

Seberkas Kesetiaan yang Tersisa


Dulu aku sangat mengagumi dia. Dia dengan segala cerita dan pengabdian yang diberikan pada kekasihnya. Sempat kuabadikan cerita pilu nan mengharukan itu dalam sebuah tulisan. Kuikuti kisahnya, betapa dia jatuh bangun berjuang demi kesembuhan kekasihnya itu. Pulang kantor, dia masih menyempatkan meracik jamu. Kusaksikan sendiri telapak tangannya sampai berwarna kuning senada dengan warna kunyit dari jamu itu. Perlahan tapi pasti, kelelahan itu mulai nyata merengkuh langkah kakinya. Hebat! Gak tanggung-tanggung, 3 bulan penuh dia berhasil bertahan menjalaninya hingga dokter menyatakan penyakit itu telah hengkang dari tubuh sang pacar.

Dan cerita itu berhasil menghapus kenangan pahitku atas kisah kelam perselingkuhannya 10 bulan silam. Aku memaafkan sahabatku itu...

Hingga malam ini, sekali lagi aku seakan terhenyak dari mimpi. Pengakuan dari bibirnya atas kisah perselingkuhannya kali ini membuatku diam tanpa komentar. Seminggu yang lalu aku sempat mendengar kabar itu dari orang lain, namun mereka bilang ini baru kabar burung. Dan sekarang, aku mengetahui kebenaran berita itu langsung dari narasumbernya.

Haruskah aku menghakimi sahabatku itu? Haruskah aku memarahi dan memberikan ceramah panjang lebar kepadanya? Tidak sobat, tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Mungkin kalian berkata, "Harusnya kau tegur sahabatmu itu ketika kau tau bahwa jalan yang diambilnya salah". Tapi aku berpendapat lain. Dia bersalah jika dilihat dari sudut pandang kalian. Namun pernahkah kalian mencoba memandang dari sudut pandang dia?? Tau kah kalian alasan dia memilih jalan ini? Belum tentu kalian tau,.. Dan belum tentu kalian yang benar..

Rabu, 29 Juli 2009

Kelip di Langit Malam,.

Langit malam Jakarta 17 Maret terlihat cerah. Hanya awan tipis yang menggantung di sudut cakrawala ibu kota. Berawal dari rasa penasaran ingin menikmati indahnya malam dari teras lantai 2 yang temaram, aku melangkah ke sudut teras paviliun mereka. Memang bukan pemandangan yang menakjubkan yang tersaji, justru terawangan ke langit malam ku terhalang oleh dinding menjulang dari gedung berlantai 7 yang sedang dibangun tepat di depan teras itu. Syukurlah, di sudut kiri masih ada sedikit celah ruang kosong yang bisa menembus ke arah langit malam..

Kunikmati sepotong keindahan langit beserta 2 bintang yang tertangkap mataku yang sebenarnya sangat penat dan mengantuk. Aku tersenyum sendiri ketika kurasakan damai menyentuh kalbuku yang mulai gersang. Tuhan, Maha Besar Engkau dengan segala ciptaan-Mu.

Detik berikutnya, bayangan itu tertangkap lensa mataku. Lampu kecil berkelip di langit itu bergerak perlahan namun pasti. Pesawat, aku tau itu pesawat yang baru tinggal landas dari Cengkareng. Sejenak hatiku terasa senyap. Aku merasa mematung dan membeku di tengah gejolak perasaanku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang teramat sangat dan sungguh tak tertahankan kepadanya. Tiba-tiba aku merasa begitu kehilangan dia, aku merasa jauh dan sangat jauh darinya. Dia yang dengan segenap racunnya dapat membunuh aku dan akal sehatku. Dia yang membuatku membenci pesawat, karena dia meninggalkanku bersama pesawat itu.

Kelip di langit itu bergerak menjauh dan semakin jauh. Dan kurasakan seolah dia pun tersenyum dan melambai padaku mengucapkan selamat tinggal. Aku menangis dalam hati. Tuhan, betapa ternyata aku sangat menyayanginya. Betapa ternyata dia berarti untukku. Betapa ternyata aku butuh dia, Tuhan. Dan betapa sebenarnya aku tak mampu memahami maksud hatiku sendiri padanya.


Malam ini aku terserak di sudut keremangan sebuah gang kecil, ironis karena itu terjadi hanya untuk mengantri membeli makan malam. Di sini, di kota indah yang terpancang jauh di luar Jakarta. Terbersit pilu ketika menatap langit di kejauhan, aku menangkap kelip lampu itu lagi di mataku, sejenak setelah tinggal landas dari Abdurrahman Saleh rupanya. Malam ini, sekian bulan dari malam itu, dan 1000 km dari paviliun berlantai dua di Jakarta dulu. Ada satu yang tidak berubah, yang tetap kurasakan. Senyap yang tiba-tiba datang menyergap ketika memandang kelip lampu itu di langit malam.

Meski sekarang ada yang berubah, karena dia telah jadi milikku. Tuhan telah berbaik hati menyampaikan maksud hatiku padanya, yang selama ini terpendam. Namun kembali malam ini aku merindukan kehadirannya di sisiku. Menyadari bahwa dia pergi bertugas dengan pesawat itu membuatku semakin tak bisa menghilangkan kebencian pada pesawat.. Sekali lagi, kelip di langit itu bergerak menjauh dan semakin jauh.


Dalam sholatku aku bersimpuh, berdoa. Tuhan, jagalah dia di sana. Mudahkanlah segala urusannya. Dan bawalah dia kembali kepadaku, dengan ridho-Mu. Amin..


Miss u beibz,.

Senin, 27 Juli 2009

Di Balik Cerita Itu..

Temen gue udah banyak yang pada jadi orang sekarang. 3 rival terberat gue di SD dulu contohnya. Mas Gigih dah jadi pegawai BPK dan ditempatin di Denpasar dengan full fasilitas, Mas Reni udah jadi salah satu komandan AD di Jogja and Mbak Putri udah jadi Psikolog terkenal di Surabaya. Sedih sih menyadari hal itu, dan mau gak mau bakal ada seberkas rasa sesal yang menampar gue dari belakang, siapa gue sekarang???

Tapi gimanapun gue masih bersyukur karena kondisi ini akibat dari pilihan hidup yang gue ambil sendiri. Seenggaknya gue udah berani nentuin sikap. Gue gak mau terus terbelenggu kayak dulu dimana gue hidup berlimpah duit tapi gue gak bahagia, depresi bahkan. Dan tiap malem gue selalu mimpi buruk, yang akan semakin buruk ketika esok paginya mimpi itu jadi kenyataan..

Tak henti2 gue menghibur diri sendiri biar gak sampe down, biar gue tetep bisa hidup normal. Menurut gue, cukup gue aja yang tau betapa sebenernya gue juga kuatir gimana hari esok gue nantinya. Gue berharap gue bisa terus yakin bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Dan jika hal ini udah bener2 terjadi, berarti Tuhan udah mengijinkan hal ini terjadi. Itu juga berarti ini yang terbaik bagi gue, menurut Tuhan. Selama ini, Tuhan selalu punya rencana indah buat hamba-Nya..

Jika hari ini akhirnya loe baca surat gue ini, mungkin emang udah kehendak Tuhan seperti itu. Sayangnya, berarti inilah titik puncak pertahanan gue sebelum gue akhirnya harus menyerah. Gue pamit...





Aku melipat kertas kusam itu dan memasukkannya ke tempat semula, sebuah amplop pink yang juga tak kalah usang. Tahun lalu, di hari yang sama dengan hari ini, aku menerima surat itu dari seorang kurir jasa transportasi di sore yang mendung. Bahkan sampe sekarang, aku masih belum percaya bahwa surat itu ditulis sendiri olehnya sebagai salam perpisahan...




Senin, 13 Juli 2009

Sebuah Cerita Aneh


Kuajari tentang sebuah cerita aneh. Bayangkan posisimu bukan di sini, tapi kau adalah dia. Mulailah!


Suatu hari, ingatkah kau pada hari itu? Kau berjalan dengan penuh harap menuju suatu ruangan kecil tempat dimana biasanya kalian, kau dan mereka, bekerja sepanjang hari menghabiskan waktu luang selepas jam kuliah.
Oh, tidak. Jarak ruangan itu semakin dekat dan jantungmu pun berdegup semakin kencang. Ada apakah gerangan? Ah, iya. Kau ingat! Bukankah tujuanmu kesana tadi tidaklah untuk menemui teman-temanmu? Kau kesana hanya untuk menemui satu orang dan jujur kau berharap dia masih ada di sana, sendirian tentu akan lebih baik.

Yah! Itu dia. Ruangan itu sudah terlihat olehmu, dan…pintunya terbuka! Sepasang sandal aneh membuatmu mengembangkan senyum. Kau tau pasti siapa pemilik sandal itu. Sepasang. Ya, hanya sepasang. Langkahmu yang hanya tinggal dalam hitungan jari dari pintu itu terasa teramat ringan. Oh, apakah kau benar-benar sedang melayang?

Ah, sampai juga kau di depan pintu itu.
Hmm..h, kau menarik napas panjang dan bersiap masuk. Assalamu'alaikum…
Salam itu terasa tak lengkap kau ucapkan. Kau hanya bisa terperangah heran bercampur sebal, benci dan tidak terima melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Kalian pasti heran, apa sih yang terlihat oleh tokoh kita ini?

Bayangkan saja!
Kau melihat orang yang sebetulnya sangat kau cintai, yang tidak bisa kau temui dalam beberapa hari ini, berdua saja dengan adik tingkatmu di sana. Ingin rasanya kau mengeluarkan semua umpatan yang pernah kau dengar.
Dosa tau!
Tapi kau benar-benar tidak terima!
Apa-apaan ini?! Kau yang sudah mengharapkan sesuatu yang selama ini kau tunggu, tiba-tiba harus kecewa gara-gara anak kecil itu. "Siapa sih loe? Ngapain di sini? Menyingkirlah darinya!" Ingin rasanya kau mengucapkan kata-kata itu padanya.

Hal yang terasa paling menyebalkan adalah ketika dia menyapamu dengan muka manis tanpa dosa. “Dari mana mbak?” Kau terpaksa tersenyum dan menjawab sekenanya, meski dalam hati kau pun mengumpat.

Kau, dengan penuh amarah mulai berpikir dan menganalisa. Apa yang mereka lakukan? Aku tidak terima. Harusnya aku yang bersamanya. Meski sebenarnya hati kecilmu mengetahui sebuah fakta. Mereka tidak melakukan apa-apa. Tempatnya saja berjauhan. Si kecil sedang sibuk dengan tugas laporannya. Dan orang yang kau cari itu sebenarnya sedang terlelap ke dunia lain. Tapi egomu berkeras bahwa kau harus marah!

Sekarang rubahlah sudut pandangmu!

Duduklah di salah satu sisi ruangan kecil itu dan kerjakanlah tugasmu membuat laporan. Ada sesosok gadis cantik berdiri di depan pintu, mengucap salam. Namun sedetik kemudian, kau melihat perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba menjadi sangat kecewa. Tapi kau juga tahu bahwa dia berusaha menyembunyikannya darimu. Lucu. Tak lama, kau pun sadar. Kakakmu itu sedang marah.

Semula kau pun bertanya, ”Kenapa dia marah?”
Akhirnya kau menyadari satu hal. Dia salah paham. Sebelum pikiran dan ide usilmu bekembang, buru-buru kau bersikap bijak. Kau mencoba berpikir, bagaimana seandainya kau yang ada di posisinya? Karena itulah kau langsung bersikap manis, menyapanya, dan berusaha meyakinkannya dengan sikapmu yang simpatik.

Andai kau tau bahwa dia berpikir lain. Ah, tidak. Kau memang benar-benar tau bahwa dia berpikir lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah :
” Kenapa kau merasa senang ketika tau bahwa dia salah berpikir?”


Kembalilah ke posisimu sebagai pembaca. Menurutmu, siapakah yang salah?

Minggu, 05 Juli 2009

Aku dan Dia tentunya,.

Awalnya, mengikuti jejak hidupnya serasa sangat membosankan. Bahkan ketika sudah menginjak bilangan tahun aku menguntitnya, aku masih belum tau siapa dia. Dan mungkin sebuah deskripsi yang paling mengherankan adalah aku benar-benar tidak tau mengapa aku masih saja terus mengikuti dia dengan berbagai cerita hidupnya itu. Yah, aku hanya berharap bahwa suatu hari aku akan menemukan jawaban atas semua ini. He he he,. Dan beegitulah, perjalananku pun dimulai sejak saat itu..