
Masih tak percaya aku sedang berdiri di tempat ini. Selama ini aku memang selalu ingin berkunjung ke kota ini, makanan khasnya yang merupakan hasil fermentasi itu sangat nyummy menyapa lidah.
Tapi gak sekarang, dan gak seperti ini caranya..
-----
"Yaudah, sampe ketemu yah? Besok pagi aku balik kok. Anakku jangan pulang dulu, tunggu Papa yah?"
Kututup telepon yang telah membangunkanku pagi ini. Benar-benar sahabat yang aneh. Aku sudah lupa kalau dia itu sahabatku. Dia begitu dewasa menyikapi hidup dan kehidupan. Itulah yang membuatku betah memanggilnya Papa, terlanjur. Dan memang benar, penilaianku terhadapnya itu diaminkan oleh teman-temanku.
-----
Gedung tua itu tampak sepi, catnya yang berwarna kuning gading sudah mulai kusam dimakan usia. Bener-bener kondisi yang tidak layak mengingat betapa besar biaya yang kuhabiskan setiap tahunnya untuk memperoleh sedikit tempat di salah satu ruangan di dalamnya bersama sekelompok teman-temanku yang lain. Ironisnya semua itu dilakukan dalam rangka memperebutkan selembar kertas berhiaskan foto terbaru dan bercap segilima berwarna ungu, logo suatu otoritas tertinggi di area dimana gedung tua bertingkat itu dibangun bersama teman-teman tuanya yang lain.
Hfffhh,.. Aku duduk melepas lelah di beranda gedung itu, sebut saja gedung A. Kubuka novel kedua yang sempat kubawa hari ini. Semoga lembaran halamannya tidak berakhir sebelum aku bertemu dengan dia, entah kapan. Harus hari ini pokoknya.
"Hey, Bu. Ngapain duduk ngelamun sendirian di situ? Mending ikut kita-kita aja ke rumah Bang Kod. Lumayan nih, jarang-jarang dia ngadain makan-makan pas ulang tahun. Ayok!"
"Duluan wes, masih ada urusan. Bilangin ke Bang Kod ntar aku nyusul."
Sambil melambai, serombongan teman-temanku di himpunan itu pun beranjak meninggalkan area parkir yang letaknya bersebelahan dengan gedung A.
Sepi. Kemana yah dia? Sejam yang lalu aku terakhir melihatnya masih berkutat di ruang workshop. "Tunggu, dek. Alatku belom kelar." Kurang lebih itu yang diisyaratkan dengan gerakan tangannya yang mulai tampak lebih kurus. Kasian, tuntutan menyelesaikan "last big job"-nya kali ini membuatnya seolah lupa mengurus diri.
Sudah 2 jam berlalu. Hampir jam 1 siang, anehnya aku belum merasa lapar.
-----
Papa sudah nyampe belom? Send.
New text message. Belom, Kak. Di sini sepi.
Belom nyampe?? Aku menghitung mundur. Harusnya dia sudah nyampe kalau perjalanan dari rumahnya ke sini hanya butuh waktu 5 jam. Apa mungkin dia mampir ke kontrakan dulu? Ya sudah. Paling-paling nanti sore dia baru ke sini.
Drrtt, drrtt... New text message.
Aku beli komponen dulu, baliknya agak lama. Kalo mau duluan silakan, dek.
Hayaaahhh, apa-apaan orang ini. Ditunggu dari tadi kok malah kabur? Sudah terlalu siang untuk pulang ke kos, pasti jalanan panas banget. Akhirnya kuputuskan untuk mampir ke "arena bermain" di belakang deretan gedung tua bertingkat itu. Tempat ini selalu asyik dijadikan arena melarikan diri bagi teman-temanku yang malas mendengarkan "orang berpidato" di gedung tua. Tapi gak semua penduduk "arena bermain" ini pemalas, ada juga yang memanfaatkan arena ini sebagai tempat mengembangkan hobi dan kreatifitas.
New text message, hampir jam 3 sore. Tumben temen kelasku ini sms? Haduwh, jangan-jangan ada kelas sore ini?!
Bu, kamu tau kabar soal Papamu gak? Aku denger dia kecelakaan tadi pagi, dan sekarang dia sudah "gak ada"...
Sender: Haris 3B.
-----
Dan di sini lah aku hari ini, berdiri mematung di hadapan makam yang masih merah.
Sms jam 3 sore itu membuyarkan segalanya. Antara percaya dan tidak, aku dan seorang temanku yang tersisa di sekretariat menghambur ke wartel untuk mencari tau kebenaran berita itu. Aku berusaha menelepon ke kontrakan Papa, berharap dia mengangkat telepon dan memastikan berita itu hanya sekedar keisengan yang tidak bertanggung jawab. Tak ada jawaban. Aku keluar. Di KBU sebelah, temanku itu mencoba menghubungi handphone Papa. Tampak dia bercakap-cakap dengan seseorang di seberang, agak lama. Aku cemas menantikan kabar darinya. Hingga semuanya terjawab saat temanku itu meletakkan gagang telepon dan keluar, matanya basah...
Terngiang kembali ucapan Papa pagi itu, "Anakku jangan pulang dulu, tunggu Papa yah?".
Seandainya hari itu aku pulang, aku takkan pernah bisa ke sini. Takkan bisa mengantar kepergiannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Selamat jalan, Papa. Dirimu dan kenanganmu takkan lekang oleh waktu...